31/12/12

BARBIE GIRL - 1


BG - 1

            HELL! Itulah yang dirasakan oleh seorang Alyssa Saufika Jcousin. Tapi tunggu.. jangan menyebut Alyssa beserta entek-enteknya, ia sungguh tidak suka. Terkecuali Alvin beserta Farida. Ia lebih suka jika dipanggil Ify. Just Ify! Ya walaupun kata Alyssa sendiri terdengar lebih elit apalagi dengan nama belakangnya Jcousin. Err.. Ify nyaris ingin menelan batu berton-ton mendengar kata Jcousin.


            Ify berjalan tergesa-gesah dan mulai berhenti seketika di depan pintu ruang kerja Farida Jcousin. Mengatur nafasnya agar terlihat lebih santai agar Farida tidak mengetahui bahwa ia berjalan bukan selayaknya orang sempurna. Sempurna dalam artian untuk kalangan atas. Setelah dirasa nafasnya sudah cukup santai, Ify mengetuk pintu dahulu karena untuk dikatakan sempurna pertama-tama ia harus melakukan seperti itu sebelum memasuki ruangan apapun. Setelah terdengar sahutan dari dalam, Ify segera menarik handle pintu secara perlahan tanpa ada suara decitan yang mengganggu. Ify segera masuk kedalam ruangan Farida saat pintu terbuka setengahnya. Dengan lirikan mata Ify dapat melihat Farida sedang menatapnya intens. Seketika degupan jantung Ify naik dua oktaf. Tidak mau berlama-lama Ify menutup pintu secara perlahan hingga tidak menimbulkan suara decitan.

            “Kemarilah.” Suara tegas yang berasal dari Farida membuat Ify melangkah mendekat dengan senyum yang merekah.

            Ify membungkukkan tubuhnya sebentar sebagai tanda hormat lalu mulai duduk tepat di depan Farida.

            “Omma memanggilku? Ada apa?” Ify masih memberikan senyum terbaiknya setidaknya untuk saat ini.

            Farida memberikan dua buah kertas yang ia taruh di meja kerjanya. Ify mengeryit heran. Dengan ragu Ify mengambil salah satu kertas yang ada di meja. Matanya menatap lekat kertas dengan isi berlembar-lembar tentang peraturan-peraturan baru yang sengaja dibuatkan Farida Jcousin untuknya. Ify sekali-kali melirik kearah kertas dan Farida secara bergantian. Sial! decaknya dalam hati.

            Ify sudah bisa menduga kertas satu lagi yang belum di sentuhnya. Kemungkinan terburuk adalah surat perjanjian terkait dengan peraturan-peraturan yang disuguhkan kepadanya. Tanpa sadar Ify menghela nafas pelan, meratapi nasib berada di tengah orang-orang yang terlalu sempurna.

          “Kenapa sebanyak ini?” Ify menatap Farida lekat meminta penjelasan dari semua ini. Farida tersenyum kecil lalu mengambil minuman disampingnya dan menyesapnya perlahan.

            “Karena kamu bagian dari Jcousin.” Farida melirik Ify yang masih menatapnya ingin tahu.

            “Ada lagi yang ingin kamu tanyakan Alyssa?” Farida menatap minuman yang dipegangnya.

            Ify menghela nafas pelan. “Bolehkah aku meminta satu hal?”

            Farida meletakkan minumannya dan bersandar di kursi yang menjadi kebanggaannya. “Tergantung.” Ucapnya.

            Ify meneguk salivanya. “Bisakah peraturannya dikurangi? Ini terlalu berat untukku..”

            Farida menatap Ify tajam. “Tidak!”

            “Omma..” Ify sedikit merajuk. Senyumnya hilang digantikan dengan tatapan minta dikasihani.

           “Alyssa!” Ify menghela nafas pelan. Ucapan Farida benar-benar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan segala keterpaksaan hati serta untuk menjaga agar tidak semakin membuat Farida kesal.

            “Baiklah Omma...” ucap Ify setengah hati.

            Untuk yang kesekian kalinya Ify harus menahan segala kebebasan yang mulai membuncah. Dan menahan segala ketidaksempurnaannya untuk menjadi sempurna.

             ***

            Langit sore terlihat mendung. Burung-burung yang pergi untuk mencari makan kini sudah mulai kembali ke sarangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore tapi Ify masih berdiri di balkon kamarnya. Menikmati hawa dingin yang mulai terasa karena mendung . Berkali-kali Ify terlihat menghela nafas pelan.

            Suara decitan pintu membuat Ify menoleh. Didapatinya Alvin sedang menutup pintu dan berjalan kearahnya. Ify mengalihkan pandangannya.

            “Ada apa Kak?” ucap Ify saat Alvin sudah berada di sampingnya.

            “Kamu besok sekolah di Frencos?” Alvin menatap adiknya bertanya.

            Ify tersentak. Hari ini sepertinya menjadi hari yang sangat menyebalkan bagi Ify. Pagi tadi selepasnya dari ruangan Farida, Ify mulai membiasakan hidupnya diatur dibawah kekuasaan orang-orang sempurna. Dan kini sepertinya Ify harus bisa menerima lagi hidupnya diatur. Ify menghela nafas pelan.

            “Jadi Omma sudah mengurus kepindahanku ke Frencos?” Ify bergumam pelan. “Bahkan aku belum sempat pamit di sekolahku yang lama di Higo School.”

            Ify berbalik badan dan bersandar di balkon kamarnya. Ify melirik Alvin yang tengah menatapnya. “Aku capek Kak..” Ify berujar pelan lalu memejamkan matanya.

            Alvin menghela nafas pelan. Tangannya mengusap rambut lurus Ify dan sesekali di kecupnya puncak kepala Ify.

            “Kakak tau kok. Kamu tenang aja ada kakak disini. Kita hadapi bareng-bareng dan Omma ngelakuin itu karena sayang sama kita.” Alvin menarik Ify ke dekapannya. Sekali lagi di kecupnya puncak kepala Ify dengan rasa sayang.

            “Aku ngerti karena kita adalah penerus Jcousin..” Ify berujar pelan dan sangan pelan di kata Jcousin. Alvin dapat mendengarnya terlebih di kata terakhir yang Ify ucapkan karena pada dasarnya Alvin mengerti bahwa Ify tidak menyukai kata sempurna.

            Kakak sayang sama kamu karena kamu adik kakak satu-satunya..

            ***

            Ify terbangun dari tidurnya saat sebuah cahaya masuk dari jendela kamarnya. Ify mengusap-usap matanya sambil menguap lebar. Rasa kantuknya masih menahannya untuk berdiam diri di tempat tidur. Tapi itu nggak berlangsung lama saat dirasakannya sebuah tangan menutup mulutnya yang terbuka lebar. Dilihatnya Alvin yang sedang menutup mulutnya.

            “Kak Alvin kenapa disini? Pakai acara nutup mulut aku segala.” Ify berdecak kesal sambil menurunkan tangan Alvin dari mulutnya.

            “Dasar bau! Mandi dulu sana kalau ketahuan Omma celaka nanti. Abis itu siap-siap kamu kan sekarang satu sekolah sama kakak.” Avin mengacak pelan rambut Ify.

            “Sekarang? Masih ngantuk aku kak Alvin.” Ify mengerucut sebal sambil terus mengusapkan matanya agar terbuka sempurna. Dilihatnya Alvin menatapnya dingin.

            “Iya deh. Aku siap-siap sekarang nih.” Alvin tersenyum dan mengacak rambut Ify sekali lagi.

            “Yaudah kakak tunggu di bawah ya!” Ify mengacungkan ibu jarinya lalu bersiap-siap menuju kamar mandi.

            Hari baru telah tiba dimana hidupnya akan diatur oleh sang penguasa sempurna. Hari terberat yang mulai dijalaninya sudah di depan mata. Doakan saja semoga Ify bisa melalui hari-hari terberatnya.

            ***

            Farida melirik kearah Alvin yang turun dari kamar Ify. Ditariknya kursi besar yang cuma satu-satunya di ruang makan lalu di dudukinya.

            “Pagi Omma.” Ucap Alvin setelah sampai dihadapan Farida. Dengan segera Alvin menarik kursinya di samping Farida lantas mendudukinya.

            Farida mengangguk sebentar. “Alyssa mana?”

            “Dikamar Omma.” Alvin mengambil roti tawar dihadapannya lalu mengolesinya dengan selai rasberry. Setelah dirasa cukup, Alvin mulai mengambil satu lagi roti tawar sebagai penutup selai rasberrynya.

            “Makannya nanti Alvin. Tunggu Alyssa dulu.” Alvin mengkerut. Menatap nanar roti di hadapannya yang sudah membuat tingkat rasa mencicipinya meningkat. Roti dengan selai rasberry hm..

            Dengan wajah ditekuk Alvin mulai menarik nafas dalam-dalam mempersiapkan teriakannya nanti dapat membuat Ify kejang-kejang. “ALYSSA BURU!! KAKAK LAPER TAU!! ALYSSA!!!”

            Farida tida memperdulikan teriakan Alvin yang sangat tidak enak di dengar. Matanya teralih pada Ify yang sedang menuruni tangga sambil membenarkan blazer abu-abunya. Alvin menghela nafas pelan saat melihat Ify yang sedang berjalan kearahnya.

            “Morning Omma.” Sambut Ify halus dan kemudian duduk berhadapan dengan Alvin.

            “Cepat kali.” Sindir Alvin.

            “Hehe. Maaf ya kak Alvin.” Ify terkekeh pelan sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

            “Pulang sekolah kamu bisa mulai bekerja di perusahaan. Jangan telat karena seorang penerus harus tepat waktu dan bertanggung jawab.” Farida menatap Ify datar.

            Ify mengangguk sebentar dan diliriknya Alvin yang menatapnya penuh tanya apa yang dikatakan oleh Farida.

            “Karena semuda sudah lengkap kalian boleh makan sekarang.” Lanjut Farida.

            Suasana makan kali ini diliputi rasa hening karena tidak ada yang mulai pembicaraan baik Alvin maupun Ify. Alasannya hanya satu, tidak mau membuat Farida marah.

            ***

            Ify sibuk mencatat serta mendengarkan pelajaran Bahasa Jerman. Setelah tadi perkenalan yang bisa dibilang sucuk singkat hanya mengutarakan nama -tanpa embel-embel dibelakangnya- serta pindahan dari mana. Kini kelas X-Azmo, kelas yang dihuni oleh Ify sendiri seketika kalang kabut saat Frau Lia memberikan ulangan mendadak.

            Ify menatap malas ketika lembar soal ulangan sampai ditangannya. Lima lembar soal bolak balik ditambah adanya soal essay di papan tulis. Sungguh hari pertama masuk yang bisa dibilang super duper malas mengingat setelah pulang sekolah ia harus segera menjalani hari pertamanya di dunia luar sebagai orang sempurna. Sungguh melelahkan pastinya.

            “Semangat Ify semangat!” ucapnya dalam hati.

            Ify mengalihkan pandangannya. Mulai menatap teman-teman kelasnya. Ketika yang lain sudah bertaruh pikiran dan menguras tenaga mengerjakan ulangan kali ini tapi Ify hanya menyibukkan diri dengan mencorat coret tidak jelas di belakang bukunya. Hingga sebuah colekan dari sampingnya membuat Ify teralih dan menatap teman sebangkunya.

            “Ada apa?” Ify mengeryit heran melihat teman sebangkunya yang sesekali melihat Frau Lia agar tidak ketahuan mengobrol saat ulangan.

            “Lo nggak ngerjain? Tinggal lima menit lagi tau! Mana susah-susah lagi soalnya.” Tanyanya.

            “Hehe ini mau ngerjain.” Ify terkekeh pelan dan mulai berkutat dengan soal-soal dihadapannya.

            Waktu terus berjalan dan ketika bel berdering tanda istirahat dan juga sebagai tanda bahwa ulangan hari ini harus segera dikumpulkan baik yang suda di isi maupun tidak. Ify mmengumpulkan palig terakhir soal beserta jawaban miliknya dan langsung melenggang ke luar menuju kantin tempat Alvin berada.

            Ify berjalan santai namun semua mata mengarah padanya. Adanya ketertarikan yang mencuat tak terbatas yang membuat semua mata terarah padanya. Ify tidak memperdulikan pandangan siswa siswi yang bergilir menatapnya walaupun sejujurnya ia sendiri tampak risih.

            Alvin terlihat di ujung kantin menyesap minumannya sambil memainkan handphonenya. Ify segera mempercepat langkahnya menuju Alvin yang terlihat duduk sendiri.

            “Kak Alvin.” Sapanya saat sudah dihadapan Alvin dan memposisikan duduknya tepat dihadapan Alvin.

            Alvin menatap Ify lalu tersenyum. “Mau pesan?” tawarnya.

            “Kakak yang pesenin ya! Hehe.” Ify terkekeh kecil sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

            “Oke. Kayak biasa kan?” Ify mengangguk kecil dantersenyum. Alvins ontak tertawa pelan dan tak lupa kebiasaan dari kecil yaitu mengusap lembut puncak kepala Ifypun dilakukannya.

            Kehadiran Ify sebagai anak baru dan kedeketannya dengan Alvin yang dikenal sebagai seorang dari salah satu pewaris keluarga Jcousin membuat semakin adanya ketertarikan yang mencuat dalam diri Ify. Menatapnya ingin tahu dengan sudut pandang yang berbeda serta pendapat-pendapat yang keluar begitu saja.

            Alvin membawa nampan kecil berisi bubur ayam beserta air putih dan dua bungkus yupi. Diletakkannya di hadapan Ify dan kemudian Alvin segera duduk ditempatnya kembali.

            “Thanks kakak. Lope lopee dah pokoknya haha.” Ify tertawa pelan menatap Ify sedangkan Alvin hanya tersenyum kecil.

            “Baru tahu disini ada bubur ayam. Bukannya ini khusus kantin yang menyediakan makanan-makanan elit? Hmm.” Ify bergumam kecil sambil menyantap makannya.

            “Emang nggak ada.” Alvin menatap Ify yang terlihat bingung sendiri. “Tadi kakak mintaBu Darsih, juru masak yang ada dikantin supaya buatin bubur ayam kesukaan kamu itu.” Alvin menjawil hidung Ify yang mancung sambil tersenyum pelan.

            Ify mengangguk paham lalu dilanjutkan lagi santapannya. Sesekali menegak minumannya. Dan ketika santapannya habis, Ify membuka bungkus yupi lalu mengecapnya pelan. Menikmati rasa yang keluar ketika di kecap lama baru dikunyahnya pelan. Begitu seterusnya. Aneh memang tapi sensasi ketika mengecap rasa yupi yang keluar di mulut membuat ingin terus menerus mengecapnya sebelum dikunyah.

            Begitu pula dengan Alvin. Sesasi hatinya yang tersa membaur dengan euphoria saat menikmati Ify yang begitu lucu dimatanya memakan yupi. Alvin selalu menikmati saat-saat seperti ini. Kenapa adiknya sangat begitu lucu dimatanya? Melihat gerakan-gerakan serta letupan kegembiraan Ify saja dapat membuatnya ingin menebar senyum dimana-mana.

            “Kak Alvin, aku mau tanya.” Suara Ify menyadarkan lamunannya. Alvin melipat tangannya di meja dan menatap Ify.

            “Apa?” tanya Alvin.

            Ify menggendikan bahunya. “Kok rasanya semua mata memandang ke arah kakak dan aku sih? Risih sumpah kak.” Ify bergedik lucu.

            Alvin menganggukkan kepalanya. “Ya sebuah ketersengajaan yang dibuat Omma hingga akhirnya yaa gini deh. Ngerti akn maksud kakak?”

            Ify tersentak. “Serius? Bentar lagi aku kena kayaknya..”

            “Ya nggak tahu deh. Kadang Omma susah ditebak biasanya kalau udah pas waktunya ya kamu bisa kayak kakak.” Alvin menghela nafas pelan. “Risih sih awalnya tapi kesini-sini jadi terbiasa. Gausah di peduliin cantik tapi kayaknya tanpa Omma ngelakuin itu kamu udah jadi daya tarik semua orang deh cantik.” Alvin menggerling matanya ke ara Ify.

            “Apaan sih kak.” Rengutan kesal keluar dari nada yang ditelontarkan Ify namun setelah itu mereka berdua tertawa. Tertawa sama-sama yang tanpa sadar menelusup ke hati masing-masing. Saling merindukan dan saling mensyukuri mempunyai saudara yang bersama-sama saling melindungi satu sama lain.

            Memecahkan keaadaan yang hening dikantin dan tanpa terasa membuat orang-orang yang memandangnya ingin tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang keluar dari tawa keduanya tanpa harus ikut terjun langsung percakapan kedua orang itu.

            Dan entah disadari atau tidak Ify mulai menyusul Alvin yang menjadi objek perbincangan di sekolah mereka. Tanpa harus membuat Farida turun tangan untuk menunjukan siapakah sebenarnya Ify karena tanpa itu semua Ify -entah disadari atau tidak- telah menunjukan ke semuanya. Bahwa inilah dirinya yang selalu membuat ketertarikan orang-orang yang menatapnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)