04/07/13

BARBIE GIRL - 7

BG - 7

            Sudah terhitung sejak lima hari yang lalu Ify tidak masuk ke sekolah. Hal itu tentu saja membuat Sivia uring-uringan selama berada di sekolah. Pasalnya selama lima hari itu Sivia seakan terintimidasi dengan tatapan mencemooh dari satu sekolah. Karena menganggap saat ini Sivia yang paling deket dengan Ify.

            Setiap hari selalu mendapatkan pertanyaan yang sama. Kenapa Ify nggak masuk? Kenapa tiba-tiba menghilang dari sekolah tanpa keterangan yang jelas? Ify itu emang siapa sih? Ify sengaja menghindar dari predikat Enour ya?

            Sivia mengacak rambutnya kasar. Berlalu di hadapan teman-temanya yang menatapnya tajam. Bodo amat! Pikirnya. Sekarang ia harus mencari Alvin. Menanyakan keberadaan  temannya itu.

            “Kak gue mau ngomong!” ucap Sivia saat berada di depan kelas Alvin.

            Suasana kelas yang kosong membuat suara Sivia yang lantang terasa menggema. Alvin mengeryit heran saat Sivia mendatangi kelasnya. Wajahnya yang kesal membuat ia menggaruk tengkuknya asal. Akhirnya Sivia menarik Alvin keluar dari kelas. Berjalan menuju kantin.

            “Apaan sih Vi? Nggak usah pakai narik-narik deh.” Alvin melepas cekalan tangan Sivia.

            “Yaudah lo ikut gue cepet kak.” Sivia melengos. Berjalan mendahului Alvin menuju kantin.

            Alvin berjalan santai di belakang Sivia. Sejujurnya Alvin sendiri mengetahui penyebab kenapa Sivia tiba-tiba datang ke kelasnya dengan wajah kesal. Pasti ada hubungannya dengan Ify. Tapi Alvin sendiri masih belum bisa bilang terkait dengan tidak hadirnya Ify ke sekolah yang secara mendadak ke siapapun itu.  Terlebih lagi Sivia. Hanya Ify yang mempunyai kuasa untuk menceritakan hal sebenarnya.

            Dan selama tiga hari, Ia tidak masuk sekolah karena kepura-puraannya izin ke Bandung demi mendapatkan informasi Ify di Tokyo. Walau begitu, Alvin tau keadaan sekolahnya yang gempar karena Ify tidak masuk. Bukan hal yang biasa mengingat Ify melanggar peraturan dan besoknya malah nggak masuk sekolah.

            Sesampainya di kantin Sivia segera memesan Spaghetti Bolognaise. Lalu duduk di meja paling pojok biar orang-orang tidak mengetahui pembicaraan yang akan mereka lakukan. Karena kebetulan saat ini adalah waktu istirahat. Dimana siswa-siswi Frencos menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Beberapa menit kemudian Alvin datang dengan membawa segelas susu. Dan langsung duduk di depan Sivia.

            “Kenapa?” Alvin langsung memulai topik pembicaraan mereka.

            “Bentar.” Ucap Sivia saat melihat pesanannya datang. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan tip, Sivia memandang tajam ke arah Alvin.

            “Ify kemana?” Sivia menyuapkan makanannya ke mulut. Walau sambil makan, Sivia tetap memandangi Alvin dengan tajam.

            Alvin bergedik melihat cara makan Sivia. “Bentar lagi juga masuk sekolah kok.” Alvin hanya menjawab seadanya. Meneguk segelas susu yang ada di tangannya.

            “Nggak elo nggak Ify ngomong gitu doang. Ini udah lima hari kak..” Sivia merenggut kesal sambil mengelap mulutnya dengan tisu basah. “Lo juga lagi. Kemana aja tiga hari ini?” lanjutnya lagi.

            “Gue pergi ke bandung.” Alvin melirik Sivia yang menatapnya heran. “Sendiri. Nggak sama Ify..” Buru-buru di tambahkan saat Sivia ingin bertanya.

            Sivia mengangguk kecil. “Terus dia kemana dong? Yang kena getahnya gue nih. Ditatap mengerikan sama anak-anak satu sekolah! Hiii..” Sivia bergedik pelan.

            “Tadi kan udah di bilang. Bentar lagi juga pulang kok.”

            Mendengar jawaban Alvin yang seadanya membuat Sivia menggeram kecil. Dengan sadis, Sivia mengetuk kencang kepala Alvin. Membuat sang empunya menatap nyalang kearahnya.

            “Siapa suruh ngasih jawaban gitu doang.” Sivia menikmati kembali makanannya. Tidak peduli pada Alvin yang menatapnya kesal dengan tangan yang mengelus kepalanya.

***

            Rio berdiam diri menatap Ify sejenak. Melihat pergerakan yang dilakukan Ify sedari tadi. Balutan pakaian dingin menyelimuti tubuh mereka. Tapi entah kenapa kali ini Rio merasa terpanah melihat Ify yang sedang memakai topi rajutnya.

            Berdekatan dengan Ify tanpa embel-embel kerjaan membuat ia bisa leluasa memandangi wajah tirusnya. Walau tatapannya sedikit angkuh tapi entah kenapa Rio merasa kali ini Ify terlihat sangat... manis.

            Ya. Saat ini tinggal dua hari lagi mereka berada di Tokyo. Setelah sebelumnya mengurus perusahaan Ortez dan mulai membenahi segala pengaturan yang ada di sana. Dan waktu yang tinggal dua hari ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Rio untuk mengajak Ify pergi mengelilingi kota Tokyo. Mencari tempat wisata yang bisa menyejukkan mata dan kalau bisa tempat wisata yang.. ehm romantis.

            Rio tersenyum kecil karena pikirannya bisa sampai kesitu. Mengajak Ify ke tempat romanstis? Ya bolehlah kali-kali, pikirnya. Sedangkan Ify hanya mengeryit heran menatap Rio. Dan tiba-tiba terbengong saat Rio tersenyum kecil dengan pandangan ke arahnya. 

            “Lo kenapa Yo?”

            Suara yang terdengar lembut membuat Rio tersentak. Tersadar dari lamunannya. Dan pandangannya mengarah pada sosok Ify yang sudah ada di hadapannya.

            “Eggak kenapa-kenapa. Udah kan? Yuk jalan.”

            Rio memasang kacamata hitamnya dan sebuah headset tergantung di telinganya. Berjalan keluar dari hotel. Ify mengikuti Rio memakai kacamata. Berusaha menyamarkan dari kalangan para media yang masih memburu info tentangnya dan juga Rio.

            “Kita mau kemana?” tanya Ify saat sudah berada di mobil.

            Rio hanya tersenyum sesaat. Matanya masih terfokus kearah jalanan. Cuaca saat ini sudah tidak begitu menusuk tulang tapi masih mencakup dalam kata dingin. Hanya minus lima derajat celcius.

            “Kalau kita ke disney land di tokyo, menurut lo gimana?” Rio menoleh kearah Ify sebentar.

            “Serius? Ah gue mau!” Ify tertawa kecil dengan kedua tangannya berada di pipi.

            Rio ikut tertawa bersama Ify. “Baiklah mari kita segera kesana.” Rio kembali berkonsentrasi dengan mobil yang ia bawa untuk menuju ke Disney Land.

***

            “AH RIO!!”

            Rio tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Ify menjerit keras sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

            Saat ini mereka berada di wahana roller coaster. Tadinya Ify sempat menolak untuk menaiki wahana tersebut. Tapi Rio segera mengeluarkan jurus andalan puppy eyes yang belum pernah diperlihatnya sama sekali ke arah Ify. Dan akhirnya Ify menyerah dan ikut bersama Rio menaiki wahana itu.

            “Lo. Jahat. Banget. Yo. Sumpah.” Ify menekan perkataannya saat mereka sudah keluar dari wahana itu. Kepalanya menggeleng keras. Menghilangkan debaran jantungnya yang tidak terkendali saat menaiki wahana menyeramkan itu.

            Rio bergelung manja ke arah Ify. “Jangan ngambek dong haha. Yuk cari wahana yang lain.” Rio berjalan sambil menarik Ify untuk mengunjungi wahana seru lainnya.

            Ify pasrah ditarik Rio. Pikirannya mengambil sisi positif dari kegiatan berjalan-jalan di DisneyLand. Setidaknya masalahnya di tanah air ketika pulang nanti sudah terlupakan sejenak.

            Waktu terus berlalu hingga tidak terasa sudah pukul lima sore. Rio mengajak Ify untuk makan di Disney Resort yang masih satu lingkup dengan DisneyLand.

            “Puas nggak?” Rio menatap kearah Ify ketika mereka sudah duduk di meja yang telah disdiakan.

            “Puas dong! Seru banget haha.” Ify tertawa dan membuat orang didepannya tenggelam dengan pesonanya yang indah.

            Rio tersenyum kecil dan memanggil pelayan untuk memesankan beberapa makanan dan minuman untuknya dan juga Ify.

            “Thanks Yo.” Ify kembali tersenyum menatap Rio saat pelayan itu sudah pergi menuju kasir. Melupakan sejenak bahwa orang yang didepannya kini adalah rekan kerjanya. Untuk saat ini ia menganggap bahwa Rio adalah dewa penolongnya ketika ia ingin melupakan sejenak masalahnya.

            Rio mengangguk. “Masih ada satu tempat yang indah. Kita akan kesana nanti.”

            Pembicaraan mereka sejenak terhenti saat pelayan datang membawa pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, Rio mulai menyantap makannya.

            “Kemana?” Ify menatap Rio dengan mata yang menurutnya berbinar. Tidak sabar menunggu akan hal itu.

            “Ada deh. Makan dulu gih.” Rio menunjuk makanan didepannya.

            “Tentu saja haha.” Ify dengan semangat mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya. Makanan lezat yang membuatnya ingin terus menyantapnya lagi dan lagi.

***

            Tokyo Tower adalah tempat terakhir yang dikunjungi oleh mereka. Pemandangan kota tokyo pada malam hari terlihat sangat indah disini. Ify tersenyum kecil memandangi ribuan bangunan yang terlihat sangat kecil jika berada di tokyo tower. Matanya tidak berhenti memandang takjub melihat pemandangan seindah ini.

            Disisi lain, Rio bersandar di tiang pembatas. Mengamati dari samping sinar bahagia di wajah Ify. Senyumnya yang tidak tahu kapan telah membuat belahan sisi di hatinya tersengat. Menggetarkan hatinya terus menerus. Tokyo Tower adalah tempat terakhir yang dikunjungi oleh mereka. Pemandangan kota tokyo pada malam hari terlihat sangat indah disini. Ify tersenyum kecil memandangi ribuan bangunan yang terlihat sangat kecil jika berada di sini. Matanya tidak berhenti memandang takjub melihat pemandangan seindah ini.

            "Gimana hari ini?" Rio mengalihkan pandangannya pada Ify. Menatap kota Tokyo pada malam hari dan sinar-sinar lampu yang menyala di bawah membuat Rio ikut tersenyum.

            "Gue seneng. Banget. Banget." Ify menatap Rio dan berbalik arah hingga bersandar di tiang pembatas. Menatap langit malam yang indah hari ini. "Malam terakhir yang indah. Thanks Yo."

            Rio mengacak puncak kepala Ify. "Gue seneng kalau lo seneng." Rio tersenyum kearah Ify. "Udah yuk balik. Besok pagi-pagi udah langsung take off ke Jakarta." Tambahnya lagi.

            Ify mengangguk kecil dan mulai beranjak dari sana di ikuti oleh Rio di sampingnya.

***

            Esok harinya, Ify sudah bersiap-siap di depan pintu menunggu Rio yang sedang mengecek kembali perlengkapan kopernya.

            “Udah Yo?” Ify menengok kearah Rio.

            Rio mengangguk dan berjalan kearah Ify. “Nih pake. Diluar banyak paparazi.”

            Ify mengambil kacamata juga topi rajut dari uluran tangan Rio. Kemudian dia memakainya. Hatinya mendesah pelan. Seminggu berada di Tokyo sungguh tidak membuatnya nyaman. Di ikuti diam-diam kemanapun ia dan Rio pergi. Untung saja penyamarannya berhasil. Kalau tidak.. habislah ia.

            “Yuk.” Rio mengambil ahli koper Ify yang berada di dekat pintu dan membawanya masuk menuju lift untuk turun kebawah.

            Sesampainya di loby dasar, Rio menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawakan koper miliknya dan juga Ify untuk ditaro di bagasi mobil. Sedangkan anak buah yang lainnya berjaga-jaga di depan pintu masuk yang sudah dipenuhi oleh para wartawan.

            Info menyebarnya kepulangan Rio untuk kembali ke tanah air bersama dengan seorang perempuan sudah masuk ke dalam telinga-telinga para wartawan. Dan disinilah mereka. Memburu berita dan juga foto keduanya.

            Rio melirik sinis lewat kacamatanya kearah para wartawan. Kemudian ia menarik lengan Ify yang bersandar di kaca estalase samping lift. Rio memajukan wajahnya kearah Ify hingga melewati telinganya.

            “Tundukin wajah lo. Jangan sampai mereka ngamil gambar wajah lo.” Bisiknya.

            Ify mengangguk pelan dan mulai berjalan terlebih dahulu menuju mobil yang sudah di sediakan di depan. Dilanjut dengan Rio yang berada tepat di belakang Ify.

            Berbagai pertanyaan di ajukan tapi dihiraukan oleh keduanya hingga mereka sudah berada di mobil. Para wartawan masih mengambil gambar hingga mobil melaju dan menghilang dari pandangan mereka semua. Tidak hanya itu, mereka masih memburu info lewat manajer hotel yang mereka tinggali sementara.

***

Haii hehe. Maaf baru di post, waktu itu sempet pending sebentar karena sibuk nyari waktu luang karena.. test ptn dan ada beberapa hal yang tidka bisa di jelaskan hehe.

Maaf juga karena menurutku part ini.. hancur -_- nggak ada feel dan beda penulisan gaya bahasa yang aku pakai di part sebelumnya huft :( ya semoga aja kalian menyukai part ini dan masih menanti kelanjutan ceritanya u,u

Aku tetap setia menunggu komen komenan kalian saran dan kritiknya :)

Part selanjutnya insyaAllah nggak ngaret tapi.... nggak tau juga hehe -.-v aku masih nyelesain dua project ff aku yang lain, Love in Seoul sama Believe in Love :)

Bye! Sampai bertemu di lain part ya :)


@Lcoaster17

11 komentar:

  1. haii!!lanjut donk barbie girl nya,penasaran nih.

    BalasHapus
  2. bener, sy juga penasaran gimana ending nya

    BalasHapus
  3. Lanjut dong penasaran!! :D

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. mungkin nanti. belum sempat nulis lagi karena sibuk kuliah nih. Info lebih lanjut bisa tanyakan saya di twitter @Lcoaster17. Btw thanks udah mau baca! :)

      Hapus
  5. Lanjut dong kak.Penasaran nih !!!

    BalasHapus
  6. Lanjutin dong, penasaran banget sama ceritanya.
    Keep writing ya kak, semangat.!!

    BalasHapus

Enjoy your comment! :)