17/12/11

Cahaya Lilin -2-

Cahaya Lilin

CL : Masalah Baru

***

“Tapi aku.. Aku masih sayang sama kamu Fy...”

“Oh jadi gini Yo..”

DEG!

Suara itu.. Jangan bilang kalau Dia ada disini. Perasaan takut itu menyelimutiku, membungkusnya secara rapi dan tidak ada celah sedikitpun. Kubalikkan badan ku dan kulihat seseorang yang bediri tidak jauh dari tempat aku berpijak.

“Shilla...” lirihku.

“Iya, kenapa Fy? Gak nyangka yah aku ada disini? Haha.”

“Shill, ini gak seperti yang elo pikirin. Gue sama Rio tadi cuma.. bercanda. Iya bercanda Shill.”

Shilla tertawa tapi linangan air mata itu terus menyeruak dari mata beningnya. Tuhan.. kali ini aku salah lagi. Maafkan aku..


“Makasih ya Yo..” Kulihat Shilla melirik Jam Shipper yang ada di pergelangan tangannya. “.. Atas 3 jam lewat 20 menit saat kamu menyatakan -kepalsuan- cintamu itu. Aku bahagia walau sakit.” Lanjutnya.

Aku lirik Rio yang tertunduk. ‘Shit! Kenapa kamu diam aja Yo? Bantu aku buat meyakinkan Shilla.’

Aku pun mulai berjalan pelan ke arah Shilla.

“Stop Fy!” Aku berhenti, memandangi Shilla layu.

“Shill pliss..” Shilla menggelengkan kepalanya perlahan-lahan. Linangan itu makin membanjiri pipi putihnya. Dengan kasar ia menghapus linangan itu.

“Makasih Fy atas kedustaan loe. Makasih atas pertemanan kita selama ini. Satu lagi, Makasih karena loe.. karena loe udah buat gue yakin kalau emang gak ada cinta yang tulus dan teman yang tulus!” Shilla mulai beranjak dari tempatnya dengan lari sekuat mungkin.

“Yo, kejar Shilla! Kam- elo jangan diem aja Yo.” Kuguncangkan tubuh bidangnya. Aku sadar pergantian kata antara aku dan dia telah berakhir. Dia mencekal tanganku, agar aku mengakhiri guncangan di tubuhnya.

“Gak! Aku gak mau. Aku sayang sama kamu Fy.”

“Elo jahat Yo! Elo macarin Shilla cuma mau nyakitin dia doang? Ck. Banci!” Kata-kata yang terlontar begitu saja tanpa sadar telah membuat hati ku semakin terluka.  Membuat lingkaran itu semakin terbuka lebar. Sesak dan Pedih.

Aku mulai beranjak pergi sebelumnya kulihat Rio tertegun atas perkataanku tadi.

***

“Shilla!” pekik ku saat aku menemukannya tergeletak tak berdaya dekat Taman VoA. Aku segera memapah Shilla menuju parkiran menuju mobilku.

Ku bukakan pintu belakang dan menaruh Shilla disana. Lalu aku beralih ke pintu depan untuk memegang kendali stir sebelum akhirnya aku menutup pintu belakang dan depan. Kujalankan mobilku menuju Rumah Sakit.

***

Shipper 117.

Kupandangi berkali-kali papan rumah tempat aku berdiri sekarang. Aku mendesah pelan. Aku bertaruh pasti keluarganya tidak ada dirumah selama seminggu ke depan, batinku.

Aku pun memasuki halaman rumahnya. Sekali lagi aku terkagum dengan kontruksi bangunan rumah Shilla. Halaman rumahnya penuh dengan Bunga Matahari kesukaannya dan Tante Pearl. Hah. Andai saja aku  lahir di keluarga yang seperti ini. Oke itu cukup andai. Dan itu gak akan mungkin jadi kenyataan.

Aku berdiri di depan pintu. Lagi-lagi tulisan papannya adalah ‘shipper’. Keluarga Shilla adalah penggila Shipper. Dengan tekad yang sudah kuat aku memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Cukup tiga kali ketuk, pintu itu sudah terbuka.

“Hai Bi.” Kubungkukan tubuhku memberikan salam kepada yang lebih tua dariku tentunya.

“Non Ify ya? Nyari Non Shilla ya? Non Shillanya lagi keluar tuh.”

“Iya Bi. Tante sama Om ada? Aku mau ketemu nih Bi.”

“Wah, Nyonya sama Tuan lagi pergi keluar kota Non. Pulangnya baru bulan depan. Ada apa ya?.’

Oke kali ini perkiraanku salah. Keluarganya pergi satu bulan bukan seminggu. Satu bulan! Oke aku ulangi lagi SATU BULAN!

“Oh. Begini Bi, Shilla masuk Rumah Sakit tadi. Bibi bisa hubungi Tante sama Om supaya nemuin Shilla dulu. Kasian Bi, gak ada yang nemenin nanti selain aku.”

“Astagfirullah. Iya Non, nanti Bibi kasih tau Nyonya sama Tuan. Makasih ya Non infonya.”

“Iya Bi. Kalau gitu aku pamit dulu ya. Mau nemenin Shilla, kasian sendiri disana.” Kubungkukan lagi sedikit tubuhku sebagai salam sebelum aku pergi dari rumah penggila shipper ini.

***

Selama diperjalanan aku hanya memikirkan kata-kata Chau saat memeriksa kondisi Shilla. Mataku mulai memanas, degup jantungku berdetak lebih dari biasanya. Makin lama mataku mulai mengabur linangan itu memenuhi kelopak mataku dan akhirnya tanpa bisa ku cegah air mata ku keluar begitu saja.

*

“Bagaimana Chau dengan kondisi Shilla?.” Chau mendesah pelan.

“Tidak baik. Selama ini Shilla terkena penyakit gagal ginjal..”

Aku terbelalak kaget. Gagal Ginjal? Whats? Enggak gak mungkin, batin ku. Aku menggelengkan kepalu perlahan-lahan.

“Gagal ginjal?” Aku bertanya lagi untuk memastikan kebenarannya.

“Iya. Kondisinya semakin parah dan kita butuh pendonor ginjal untuk melakukan pencakokan ginjal di tubuh Shilla. Aku harap kamu segera memberi kabar kepada orang tuanya.”

“Percuma! Orang tuanya gak akan pernah jenguk Shilla karena mereka lebih memilih perkerjaannya itu. Kalau gitu..” Chau memotong perkataanku.

“Jangan bilang kalau kamu mau mendonorkan ginjalmu itu? Ck. Jangan gila Fy. Ini sangat berbahaya dengan kondisimu!”

“Salah kalau aku mau membantu orang lain? Iya salah?! Aku cuma mau donorin satu ginjalku untuk Shilla. Karena dia lebih membutuhkannya dari pada aku!” Aku merasa tubuhku sesak. Deru nafasku tak beraturan menahan segala kekecewaan dan ketidakberdayaanku.

“Lebih baik kamu memberitahu kedua orang tuanya dahulu. Untuk pembicaraan yang satu ini kita lanjutkan lain kali.” Chau menghela nafas kasar.

Aku pun beranjak dari ruang kerjanya meninggalkan Rumah Sakit ini dan menuju rumah Shilla.

 *

Aku sampai di Rumah Sakit. Setelah memarkirkan mobilku, aku mulai melangkahkan kakiku menuju tempat Shilla berada. Kamar 217, ucapku dalam hati.

Langkahku mulai pelan dan berhenti tepat di depan Kamar 217.

Creakkk..

Bunyi decitan pintu saat aku mulai memasuki ruangan ini. Kututup pintu itu dengan pelan hingga tidak menimbulkan suara. Hah rasa sesak ini mulai menyeruak lagi saat aku melihat seseorang yang sangat berarti bagiku sedang terbaring lemah di ruangan ini.

Dengan langkah perlahan aku mulai menuju kasur dimana Shilla berada.

Pucat. Ya wajahnya pucat dan.. tidak ada senyum di wajahnya. Kugenggam tangannya dan ku elus rambut hitamnya. Kucondongkan tubuhku hingga mulutku tepat di telinganya. Dan yah, linangan air mata yang terus berada di kelopak mata akhirnya jatuh perlahan membasahi pipiku.

‘Maafin gue Shill. Gue gak bermaksud buat nyakitin elo. Gue akan ngerelain Rio buat lo. Buat lo sahabat gue.’

***

Taraaa! Selesai Part 2 nya B) Minta sesuap komen yaa! :3 Terimakasih~

Senyum Manis,


@LersTennouji

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)