05/02/12

Cahaya Lilin -4A-

CL 4

Semua salahku dan akan terus salahku. Bukannya begitu?

– Alyssa Saufika –

***

Aku mulai mendrible membawa bola tersebut kearah ring. Sedikit memutar badan dengan siap melakukan lay-up.

Bola masih berputar di garis bibir ring. Dan.. Masuk!

Aku tersenyum miring dan mulai berlari menuju bola orange itu. Mengambilnya dan mulai melepaskan tembakanku di garis three point.

Meleset.

Bola itu memantul di sembarang tempat. Aku mendesah berat. Berlari menuju bola orange itu. Pikiranku berkecamuk mengingat kejadian kemarin.



*

“Donorin ginjalku buat Shilla..” Chau menghela nafas kasar.

“Sudah kuduga..” Aku mencoba tersenyum.

“Bagaimana?”

“Maaf Ify, Prosedur tetap prosedur. Lagi pula kamu lagi tidak sehat dan itu kalau dipaksakan akan semakin memperburuk keadaan kamu. Sebaiknya urusin dahulu kesehatan kamu baru orang lain.” Aku tersenyum miring.

“Bukannya aku tidak akan pernah sehat? Lagi pula aku sudah pernah merasakan bagaimana nafasku berhenti beberapa saat dan jantungku seolah tak mau berdenyut lagi. Dan kenapa hanya mau berbuat kebaikan sedikit saja rasanya aku tidak pernah bisa menjangkaunya?”

Chau terdiam. Menatap tajam manik-manik manaku.

“Kenapa Anda diam? Anda seorang Dokter bukan? Harusnya pertanyaan sepele itu bisa Anda jawab kan?” Mataku mengabur. Nafasku tercekat.

“Kenapa? Kenapa?!” Air mataku menyeruak keluar tanpa bisa kutahan.

“Maaf Ify. Ini buat kebaikan kamu. Tiga minggu lagi kamu akan menjalani operasi. Beritahukan Orang Tua mu segera. Istirahatlah yang banyak dan permisi.”

Chau meninggalkanku dengan segudang pertanyaan yang tidak mungkin bisa aku jawab. Air mataku masih terus keluar dari tempat persembunyiannya. Hingga tak sadar aku mulai tertidur didalam ketidakberdayaanku.

*

Air mataku kembali mengalir saat mengingat bagaimana ketidakberdayaanku. Dengan cepat aku hapus air mataku.

‘Pasti ada jalan lain Fy. Dan loe harus cepet menemukan jalan yang lain itu..’Aku terus menyemangati diriku sendiri.

Aku mulai mendribel lagi. Memutari lapangan sambil mendribel bola orange itu. Setelah itu mulai mendekati garis three point, mencoba melepaskan tembakanku.

‘Shoot!’

Aku mulai melepaskan tembakanku. Bola orange itu masuk dengan mulusnya ke arah ring. Dan bertepatan saat itu seseorang mencekal tanganku. Mau tak mau aku berbalik menghadap ke arahnya.

Aku mendengus kesal.

“Mainnya udahan dulu. Muka loe udah pucat gitu.”

“Bukan urusan loe!” Aku melepaskan tangannya yang masih menggengam tanganku.

“Oke! Loe boleh marah karena bokap gue gak ngijinin ide gila loe itu. Tapi loe harus tau itu buat kebaikan loe sendiri.”

Aku tersenyum miring sedetik kemudian aku berlari menuju bola orange itu. Mulai mendrible membawa bola tersebut keliling lapangan. Gabriel berdecak. Dari ujung mataku, aku bisa melihat raut wajahnya yang kesal. Aku tersenyum tipis.

Gabriel mulai berlari kecil menghampiriku. Aku berhenti memainkan bola orange kesayanganku.

“Jangan main lagi. Muka loe udah pucat gitu. Kita balik sekarang, gue yang anter.”

“Peduli gue?” Aku mengacuhkan Gabriel dan mulai memainkan bola yang ada ditanganku.

“Sorry Fy, kali ini lo harus nurutin kemauan gue ini juga buat kebaikan loe.” Gabriel menarik tanganku. Aku mensejajarkan tubuhku dengannya.

“Lepas.” Aku berhenti.

“Gue anter loe pulang.” Ide gilaku menggelayuti pikiranku. Aku tersenyum miring.

“Ada syaratnya..”

“Apa?”

“...”

***

Pertandingan masih berlangsung. Lapangan basket sudah mulai terisi penuh oleh kepadatan siswa-siswi lain yang ingin melihat lajunya pertandingan.

“Fy cukup! Nafas loe udah kaya gitu juga.” Sela Gabriel ditengah-tengah pertandingan.

Aku tersenyum miring.

“Oke gue akan buat loe kalah. Biar pertandingan cepat usai.” Tepukan riuh dari penonton menggema dan itu akan membuat Gabriel semakin gencar melakukan penyerangan pada daerah pertahananku.

Gabriel mulai menyerang daerah pertahananku. Gabriel mendribel sedikit bola yang ada ditangannya. Melakukan lay-up dan masuk!

Sorak sorai semakin bernaung di lapangan membuat Gabriel tersenyum tipis.

Aku melirik papan skors yang tepat berada di samping sudut lapangan.

12-17

‘Kalau kaya gini gue bisa kalah. Sial!’  Kualihkan pandanganku pada papan skors dan mataku tertumbu pada sosok yang juga melihatku.

Matanya menatap tajam mataku. Aku terkesiap dan buru-buru mengaihkan pandanganku.

‘Shilla? Kok bisa ada disini?’

Aku pun mulai memfokuskan diriku pada bola yang berada ditanganku. Sedikit melakukan pergerakan-pergerakan kecil untuk menghalangi Gabriel yang mengincar bola orange itu.

Angka demi angka aku peroleh untuk mengejar hasil ketertinggalanku. Waktu masih tersisa dua menit lagi sedangkan skors masih 17-19.

Aku mulai merasakan deru nafasku tidak beraturan dan detak jantungku mulai melambat. Keringat dingin mulai menyeruak disekujur tubuhku.

“Loe gak kenapa-kenapa Fy?” Wajah Gabriel terlihat cemas.

‘Kesempatan!’ Aku mulai berlari mengambil bola yang masih berada ditangan Gabriel. Mendrible membawa bola tersebut ke garis three point. Sedikit shoot dan masuk!

Aku tersenyum kecil. Walau kenyataannya aku meringis. Aku melirik kearah diktator kecil  yang berada di pergelanganku. Diktator untuk melihat atau tepatnya mendeteksi denyut jantung dalam angka pemberian Chau dulu. Entah kenapa aku enggan menyisipkan kata ‘dokter’ setiap menyebut namanya.

33 = LOW!!

‘Low? Berarti gue sedang dalam tahap sangat tidak baik. Sial!’

Aku terdiam. Diam karena rasa sakit itu mulai menjalar di tubuhku. Gabriel menghampiriku.

“Fy kita udahan aja. Gue rasa elo lagi dalam keadaan tidak baik.” Aku mengangguk pelan dan mulai beranjak dari lapangan bersama Gabriel.

Sorakan riuh dari penonton karena pertandingan berhenti begitu saja membuatku ingin menguburkan kupingku dalam-dalam. Sorakan riuh itu seakan menulikan telingaku.

Aku terduduk di pinggir lapangan. Gabriel meposisikan tubuhnya sama denganku.

Gabriel memberikanku sebotol minuman. Akupun menerimanya dan mulai meminumnya.

“Diktator loe udah berapa?” Aku mengeryitkan dahiku.

“Stabil.”

“Bohong!” Tukasnya.

“Kalaupun gue bohong itu bukan urusan loe Yel..” Gabriel hanya tersenyum masam.

***

Ehem~ Part 4A muncul dengan cerita sama kayak kemarin bernuansa sinetron(?) u,u Mungkin Part 4B nya minggu depan tapi gak tau juga ._.v
Minta sesuap komen ya~ Thanks ^^
@LersTennouji

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)