22/03/13

BARBIE GIRL - 4


BG - 4

Ify memasuki ruang keluarga dan menghampiri Farida yang sedang mengobrol dengan Alvin. Dengan membawa beberapa berkas di tangannya, Ify segera duduk di depan Farida. Wajah yang terlihat lelah karena fokusnya sedari tadi hanya di pekerjaan.


Farida menatap Ify lalu menghela nafas pelan. Dengan segera dialihkannya pandangan tersebut ke arah Alvin. "Alvin, tolong tinggalkan ruangan ini sebentar." Farida mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Pandangannya berganti dan mengarah ke Ify.

Alvin menatap Farida sebentar dan mengalihkan pandangannya kepada Ify yang duduk di depannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Alvin segera mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.

Ify berjengit tidak peduli saat Farida meminta Alvin meninggalkan ruang keluarga. Entah kenapa pikirannya sudah lelah dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya. Sesekali dipijatnya pangkal hidung untuk menghilangkan kelelahannya.

Keheningan telah terjadi selama Alvin melenggang pergi. Farida yang masih menatap Ify dengan tatapan yang sulit dimengerti dan Ify yang masih terfokus kepada berkas ditangannya. Sesungguhnya dengan keheningan yang tercipta hanya akan menambah suasana semakin mencekam. Dan kini hanya ada seruan nafas yang saling beradu.

Ify melirik Farida lewat ekor matanya lalu kembali fokus pada berkas di tangannya. Berusaha tidak peduli dengan tatapan Farida yang menurutnya aneh. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang nanti akan mengarah padanya. Ify melengos tidak ketara dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa Farida tidak akan memberikan sesuatu yang menurutnya aneh lagi.

Farida bedehem pelan membuat Ify menatapnya ingin tahu. "Perusahaan mana yang akan kamu pilih, Alyssa?"

"Untuk penanaman modal nggak ada yang aku pilih Omma. Tapi kalau untuk pembelian saham ada beberapa perusahaan yang akan memberikan keuntungan untuk Entiarsa Corp." Ify menjelaskan sambil  memperlihatkan berkas yang ada ditangannya.

Farida mengangguk paham. "Nyatanya?"

Ify menutup berkas ditangannya dan membetulkan letak posisi duduknya. "Nyatanya itu seperti Haling Corp, Senna Ogulation, dan terakhir Nata Tools. Ketiga perusahaan tersebut didirikan oleh tiga orang remaja yang bersahabatan dari kecil. Disini kita bisa membeli saham pada salah satu perusahaan tersebut tapi bisa juga untuk membeli seperempat saham untuk ketiga perusahaan itu."

Farida menatap dalam mata Ify. "Saya tunggu sepuluh menit lagi harus sudah rapi. Kita akan bertemu dengan ketiga perusahaan tersebut. Kamu harus sudah menentukan apa yang akan kamu pilih."

Ify berdehem pelan berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Omma ini terlalu cepat.."

"Tidak ada bantahan Alyssa." Farida bangun dari duduknya. "Waktu sudah mulai berjalan. Bersiap-siaplah Alyssa." Lanjutnya lagi.

Ify segera merapikan berkas yang pangkunya. Setelah selesai, Ify bangun dari duduknya dan berpamitan kepada Farida. Langkah kakinya jadi terburu-buru menuju letak kamarnya yang ada di lantai dua.

***

Hari minggu yang cerah biasanya dipakai buat mengistirahatkan tubuh dan menenangkan pikiran. Tapi itu tidak berlaku bagi Ify, penyandang nama belakang Jcousin yang memiliki perusahaan terbesar dengan nama Entiarsa Corp.

Mobil di kendarai Alvin sedang melaju diantara mobil lain. Ify bersandar di jok mobil dan menatap kosong kearah depan. Saat ini ia masih belum tahu perusahaan mana yang akan dipilih. Ketiga perusahaan itu mempunyai dampak yang signifikan terhadap perusahaan Entiarsa Corp.

Alvin melirik Ify yang kini memejamkan matanya sambil sesekali mengurutkan pelipisnya. Tanpa sadar Alvin menghela nafas berat membuat Ify menatap ke arahnya.

"Kenapa kak?" Ify masih menatap Alvin yang fokus mengendarai kendaraan untuk bertemu dengan ketiga perusahaan itu,

"Nggak apa-apa. Mending kamu mantepin mana yang kamu pilih. Semua berada di tangan kamu Alyssa." Alvin menatap Ify sebentar lalu fokusnya kembali ke jalanan.

Ify menghela nafas pelan dan segera mengalihkan pandangannya. "Iya kak."

Alvin menatap Ify yang diam, membiarkan adiknya berfikir lebih jernih apa yang akan dipilihnya. Kehingan menyambut selama Alvin mengendarai mobilnya menuju cafe Brains dimana pendiri ketiga perusahaan itu berada disana.

***

Sivia duduk bersama Gabriel di lapangan komplek dekat rumah Ify. Saling bertautan tangan dan menggenggam erat satu sama lain. Dengan satu topik, keduanya bisa mengobrol sambil bercanda-canda tanpa batasan waktu.

Gabriel melepaskan tautan tangannya sambil tersenyum. Mencari air minum di tas miliknya. Setelah ketemu, dibukanya penutup itu lalu diserahkannya ke arah sivia.

"Buat kamu." Gabriel tersenyum dan mengusap sayang puncak kepala Sivia.

Sivia mengambil minum dari tangan Gabriel. "Woho! Thanks ganteng haha."

Gabriel tertawa lepas akan ucapan Sivia, gadis yang dicintainya. "Sama-sama jelek! Haha." Balesnya.

Sivia hanya melongos menatap Gabriel lantas dialihkannya pandangan matanya. Tapi Gabriel sendiri menyadari sikap Sivia saat ini. Entah kenapa jika bersama Sivia dirinya sangat peka. Langsung bisa menyadari sikap-sikap yang ditunjukkan gadisnya itu. Buru-buru Gabriel mengecup pipi Sivia kilat.

Sivia langsung menatap Gabriel tajam. Tangan kirinya langsung menempel pada pipi yang di kecup Gabriel. Tanpa sadar semburat merah terpampang di wajahnya.

Gabriel hanya mengulum senyum walau dalam hati harus menahan tawanya ketika melihat semburat merah di wajah Sivia. Dengan gemas, dicubitnya kedua pipi Sivia. Seketika Sivia dan Gabriel tertawa lepas dan sesekali dengan sengaja Sivia menggembungkan pipinya agar Gabriel tidak bisa mencubit kedua pipinya yang putih.

Hari sudah semakin sore, keduanya pun segera beranjak untuk pulang. Tidak lupa Gabriel mengantar Sivia terlebih dahulu dengan cagiva hitamnya. Selama perjalanan pulang, jauh di dalam lubuk hati mereka sama-sama meyakini bahwa menghabiskan waktu dengan orang yang di sayang akan terasa lebih cepat dibanding menghabiskan waktu dengan yang lain

***

Ketika Ify membuka pintu cafe Brains, semua orang menyambutnya. Ify menyunggingkan senyum terbaiknya. Dalam hati ia memantapkan lagi pilihannya. Semoga pilihan ini yang terbaik. Semangat Ify semangat!, batinnya.

Ify meneruskan langkahnya sambil tetap mempertahankan senyumnya. Ia dapat melihat Farida yang ternyata sudah sampai duluan ketimbang dirinya sedang duduk di meja eksklusif yang terletak di pojok cafe. Sedangkan tidak jauh dari tempat duduk Farida, Ify melihat tiga orang yang berpakaian hampir sama seperti dirinya yaitu kemeja dibalut dengan jas kantor serta bawahannya masing-masing. Ketiga orang itu adalah pemilik dari Haling Corp, Senna Ogulation dan Nata Tools.

Ify menatap Alvin yang tersenyum padanya seolah-olah memberikan keyakinan untuk apa yang akan dipilih nanti. Ify hanya mengangguk kecil dan Alvin segera melangkahkan kakinya menuju tempat Farida. Memberika lenggangan waktu berbicara agar terlihat lebih santai namun tetap profesional kepada Ify serta ketiga kliennya.

"Alyssa Saufika Jcousin dari Entiarsa Corp." Ucap Ify saat memperkenalkan dirinya. 

"Goldi Senna dari SO. Disebelah saya ada Eldwin dari Nata Tools dan terakhir Rio dari Haling Corp." Ujar Goldi sambil mengulurkan tangannya di ikuti yang lain.

Ify tersenyum ramah dan menyambut masing-masing ketiga uluran itu tanda salam kenal. Ify segera menarik kursi di hadapannya dan mendudukan dirinya disana dan di ikuti oleh Goldi, Eldwin dan Rio.

"Oke, langsung saja. Pertama saya akan bahas mengenai ketiga perusahaan ini. Dari berkas perusahaan yang kalian kasih kepada saya sudah cukup jelas, hanya saja ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan."  Ify segera membuka tiga berkas yang sudah ada di meja. Yang lain cukup menjadi penyimak yang baik saat ini.

Disisi lain Farida melihat Ify dengan sudut pandang yang berbeda. Matanya hanya terfokus ke arah Ify. Sedangkan Alvin memandang Farida serta Ify bergantian, kemudian menghela nafas pelan. Diambilnya secangkir coffe dan menyesapnya pelan. Gerakannya berhenti ketika Farida memanggil namanya.

Alvin menatap Farida dengan kening yang berkerut. Ditaruhnya secangkir coffe itu di meja depannya. "Ada apa Omma?" tanyanya sopan.

Farida melirik jam tangannya sebentar lalu menatap Alvin. "Kamu bisa pulang sekarang Alvin. Sehabis ini saya dan Alyssa akan ada urusan biar nanti di antar Farid."

Alvin menatap Ify sekilas lalu beralih ke Farida. "Baik Omma. Alvin permisi dulu." Alvin segera bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobil yang sedari tadi menganggur di meja cafe. Dilangkahkan kakinya menuju pintu keluar cafe Brains.

Farida mengangguk pelan dan segera menatap Ify kembali. Ia ingin melihat gerak-gerik Ify dalam menjalani kewajibannya sebagai penerus Entiarsa Corp. Walaupun ia sendiri yakin bahwa Ify tidak akan mempermalukan nama keluarga, Jcousin.

***

Ify sudah berada di Entiarsa Corp pukul delapan malam. Setelah bertemu dengan ketiga perusahaan itu dan membuat rapat kecil-kecilan, Ify segera kembali ke tempat yang menjadi kewajibannya saat ini -Entiarsa Corp- bersama Farida. Tumpukan berkas yang berada di meja kerjanya adalah alasan utama kenapa Farida membawanya malam-malam ke sini. 

Sedari tadi Ify baru menyelesaikan dua berkas dari tiga puluh berkas yang harus di tanda tanganinya. Selain itu, Ify harus memeriksa data anggaran yang baru masuk sore tadi dan belum sempat di bacanya hingga saat ini.

Ify menyampirkan jas kantornya ke belakang kursi dan mulai bersandar ke kursi besarnya. Matanya terpejam berusaha merilekskan pikirannya. Di ambilnya air putih hangat di atas meja lalu di tegakknya pelan. Setelah dirasa cukup untuk merilekskan pikirannya, Ify kembali menyelesaikan tugas kantornya.

Nada panggilan masuk lagu Beauty and a Beat pada handphonenya membuat Ify menoleh dan mengambil handphonenya. Ify mengeryit heran saat melihat panggilan masuk dari Rio yang notabennya pemilik Haling Corp.Tanpa menunggu lebih lama lama lagi, Ify segera menjawab telephone dari Rio.

“Besok ada hal yang mau gue bicarain. Bisa ketemuan dimana?” Suara bariton milik Rio terdengar saat Ify menjawab panggilannya. Kalimat tanpa basa-basi serta suaranya yang terdengar tidak bersahabat membuat Ify melakukan sumpah serapahnya dalam hati.

“Besok gue kasih tau lebih lanjut.” Nada suara Ify terdengar ketus dan langsung mengubah penggunaan bahasanya mengikuti lawan bicaranya, Rio.
“Oh..”

Ify terbelalak mendengar sahutan dari Rio. Belum sempat untuk menunjukkan ke protesannya, panggilan masuknya sudah di tutup oleh Rio. Dasar nggak tahu sopan santun!, rutuknya dalam hati sambil menatap handphonenya.

Ify menghembuskan nafasnya kasar berusaha meredamkan emosinya saat itu. Setelah emosinya terbuang jauh, Ify segera melanjutkan perkerjaannya lagi yang sempat tertunda saat Rio menelponnya.

***

Ify sudah ada di sekolah lima menit sebelum bel masuk. Kantuk terus melanda dirinya mengingat pekerjaannya selesai pukul empat pagi. Hanya tidur satu jam lalu bangun dan  bersiap-siap ke sekolah. Sweater yang membalut tubuhnya sudah berganti alih menjadi penutup wajahnya untuk tidur di kelas. Tanpa memperdulikan deringan bel masuk dan anak-anak kelas yang menatap heran .

Selama pelajaran berlangsung, Ify bagai anak emas yang tidak mendapat teguran sama sekali seolah menganggapnya tidak ada. Tapi berbeda dengan siswa siswi lainnya, jika ada yang ketahuan tidur atau tidak memperhatikan selama pelajaran berlangsung sudah di pastikan dalam waktu satu detik mendapat predikat Enour.

Enour sendiri merupakan predikat terjelek yang ada di Frencos. Ketika sesorang mendapatkan predikat itu, jangan harap bisa bersantai-santai ria. Karena sudah pasti akan di pindahkan ke kelas ZC Frencos. Kelas bagi anak-anak yang tidak pernah mentaati peraturan. Selain itu bakal di cemooh satu sekolah dan yang paling parah bisa sampai di keluarkan jika masih belum bisa berubah. Frencos terkenal dengan ketertiban yang paling ketat di antara sekolah lain. Untuk itu, ketika sesorang bersekolah di sana harus memasang image sebagus mungkin.

Dan sampailah pada bel istirahat berbunyi. Ify membuka sweater yang menutupi wajahnya. Masih berusaha mengumpulkan nyawa-nyawa yang di ambang awan karena masih mengantuk. Setelah terkumpul, Ify mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas tapi yang ia dapat hanya tatapan teman-teman kelasnya yang menatap penuh selidik kearahnya.

Ify menoleh ke arah Sivia yang berada di belakangnya. “Kenapa?” tanyanya.

Sivia menghela nafas pelan dan segera bangun dari posisi duduknya. Menarik Ify keluar setelah sebelumnya permisi kepada Acha yang duduk menghalangi jalan keluar Ify. Ify hanya mengeryit ke arah Sivia tapi tetap mensejajarkan langkah Sivia yang menariknya.

“Lo nyari masalah Fy. Gila!” gerutu Sivia di sepanjang jalan menuju taman baca sambil mempercepat langkahnya.

Ify terbelalak kaget. “Masalah apaan? Gue aja nggak pernah ngerasa nyari masalah Vi.” Di sejajarkannya langkahnya menuju Sivia. Dan ketika sampai mereka langsung duduk di tempat paling aman agar siswa-siswi yang lain tidak akan mengetahui pembicaraan yang mereka lakukan.

“Lo sebenernya tahu nggak sih peraturan-peraturan di Frencos?” Sivia menatap tajam Ify.

“Nggak lah. Gue kan langsung dimasukin sama Omma jadi mana sempat liat tata tertib di sini.” Ify melipat kakinya hingga duduk bersila dan menatap serius Sivia.

“Pantes. Padahal sekolah milik sendiri tapi nggak tahu tata tertib apa yang ada di sini. Cuma tahu fasilitas. Payah!” Sivia mencibir Ify sambil mengetuk puncak kepala Ify.

Ify meringis kecil akibat ketukan di puncak kepalanya tiba-tiba. “Masih banyak hal lain yang harus di pelajari di banding hal kecil itu Vi..” alibinya.

Whatever. Sekarang tinggal pikiran gimana caranya lo mengembalikan nama baik lo sendiri di mata semua anak Frencos. Gue yakin dalam waktu lima menit seluruh sekolah udah tau kejadian yang paling tidak di duga kecuali guru-guru di Frencos.” Sivia menatap Ify sambil mengusapkan dagunya layaknya seorang detektif.

Ify menoyor Sivia pelan. “Jelasin dulu ke gue. Masalah apa yang udah gue buat Vi. Gue nggak akan ngerti kalau lo nggak bilang akar masalahnya.”

“Derita amat gue punya teman kayak lo.” Canda Sivia. “Lo tidur di kelas. Dan semua orang tahu kalo tata tertib di Frencos ketatnya naujubileh. Dan ketika melanggar salah satu tata tertib bakal dapat predikat Enour!” lanjutnya.

Ify mengaggukkan kepalanya tanda mengerti. “Gue emang pernah dengar tentang predikat Enour dari kak Alvin tapi nggak tahu sedetail itu. Cuma tahu kalo dapat predikat Enour bakal nggak tenang hidupnya..”

“Terus gimana nih?” tanya Sivia.

“Yaudah nanti aja deh. Gue yang handle entar. Ke kantin aja yuk, kak Alvin udah nungguin.” Ify bangkit dari duduknya dan mulai beranjak di ikuti oleh Sivia.

***

Ify berdiri di gerbang sekolah menunggu Rio menjemputnya. Memang pertemuan rapat kecil-kecilan itu Ify memutuskan untuk membeli setengah saham yang ada di Haling Corp. Dari semua pertanyaan yang di ajukan olehnya, hanya Rio yang mampu menjawab dengan sempurna.

Mobil jaguar hitam metalik berhenti tepat di depan Ify. Ify langsung membuka pintu depan mobil saat tahu bahwa pemilih jaguar itu Rio. Setelah duduk di jok mobil, Ify langsung menutup pintu. Dan mobil yang di kendarai Rio mulai berjalan.

Ify merasakan hawa-hawa tidak bersahabat yang keluar dari diri Rio dan membaur ke arahnya. Pikirannya seakan kacau membayangkan hal-hal yang negatif jika satu mobil bersama Rio. Tanpa sadar Ify bergedik pelan.

Rio melihat Ify yang tiba-tiba saja bergedik pelan. Dalam hati ia tertawa akan tingkah laku Ify yang menurutnya lucu. Tapi Rio harus bisa menjaga image di depan Ify.

“Gue nggak nyangka kalau lo itu... masih SMA. Masih bocah ingusan tapi bisa megang perusahaan Entiarsa. Ckck.” Rio dapat merasakah ucapannya terdengar ketus dan tidak bersahabat.

Ify tersentak saat Rio mengucapkan kalimat yang begitu menusuk. Ia membuka mulutnya lebar-lebar ingin melakukan semua bentuk protesan tapi itu hanya tersendat di tenggorakan dan tak mampu Ify keluarkan. Akhirnya Ify mengatupkan lagi mulutnya dan mendesah kesal.

“Ya terserah lo mau bilang apa yang jelas gue buutuh jawaban atas pembicaraan lo kemarin.” Ify melirik Rio kesal.

“Oke bocah ingusan nanti ya setelah sampai di tempat tujuan.” Rio menggerling ke arah Ify sambil menekankan perkataan bocah ingusan.

Ify mendelik sebal ke arah Rio dan berusaha meredam gejolak emosi yang ada dalam dirinya. Ia cuma bisa berharap waktu dapat di putar kembali hingga Ify tidak akan memilih perusahaan Rio. Tapi yang namanya waktu tidak akan berputar kembali. Waktu terus berjalan mengisahkan kenangan yang tergores dalam ingatan setiap harinya. Lagi-lagi waktu yang menjadi perihal permasalahannya kini.

-0-0-0-0-0-

Cheers!


@Lcoaster17

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)