01/01/14

Show Me Your Love [3/3]

cover by MissAzmatoART

Title :
Show Me Your Love [3/3] - END
Main Cast :
Ify Alyssa, Mario Stevano, Sivia Azizah
Genre :
Romance, Angst
DC :
"Ketika cinta menunjukkan yang sebenarnya.."
Previous Part :

***
            Kalaupun ada yang harus disalahkan dalam permainan ini adalah dirinya. Bukan Ify ataupun Sivia. Hanya Rio seorang. Rio.. Mario Stevano. Manusia terbodoh yang rela membiarkan dua orang yang ia sayangi masuk kedalam permainannya dan akhirnya salah satu diantara mereka jatuh terpuruk karenanya.

            Darah itu menetes dari pergelangan tangan kanan Rio. Mengalir diatas air keran westafel yang tergenang dengan warna merah pekat. Rio memandang dirinya diatas pecahan-pecahan kaca yang sudah tidak terbentuk lagi. Rambutnya yang acak-acakkan mengingatkannya dengan seruan pertama Ify beberapa minggu yang lalu.

            Dari awal gue emang salah.. Cuma karena satu keinginan yang ingin gue laksanain tapi ujung-ujungnya semua dibayar dengan rasa sakit ini.

            Tangan Rio kembali mengepal. Dan suara pecahan kaca itu mulai terdengar kembali saat kenangan dan janji yang seharusnya ia bangun bersama Ify menyeruak memasuki pikirannya. Pintu kamar mandi terbuka membuat Rio membalikkan badannya. Walau pandangannya kini udah mulai samar, tapi Rio masih bisa melihat Sivia berdiri di depan pintu dengan raut muka tidak bersahabat.

            “Lo gila!”

            Sivia segera masuk kedalam dan membantu Rio untuk keluar dari kamar mandi yang udah penuh dengan tetesan darahnya.

            “Gue bego banget Vi.” Rio menatap lirih Sivia. Sivia mendesah pelan dan segera mendudukan Rio di kasur. Ia mengambil beberapa obat dan air untuk membersihkan luka Rio.

            “Lo nggak bego, cuma kadang pemikirannya lo dibatas kemampuan manusia yang sebenarnya.” Sivia tersenyum kecil.

            “Gue serius..” Rio menghela nafas pelan. “Karena gue, Ify masuk rumah sakit. Padahal rencana awalnya nggak gini.”

            Pandangan Rio mengarah menatap figura-figura yang diletakkan di meja khusus di samping ranjangnya. Di meja itu terlihat foto-foto Rio dan Ify dari masa anak-anak hingga remaja.

            “Udah nih. Luka lo udah gue perban. Awas aja lo ngelakuin kayak gini lagi gue bilangin Ify.” Sivia mengetuk kencang puncak kepala Rio. Rio hanya menatapnya sangsi.

            “Siap-siap gih. Kita ketemu Ify.” Sivia segera beranjak dari kamar Rio. Sedangkan Rio hanya menatap kepergian Sivia dengan kosong.

            Bahkan hanya untuk ketemu kamu aja sekarang rasanya aku udah nggak sanggup Fy.. Maaf..

 ***

            Mulai hari ini, Ify merasa akan menjadi hari yang paling menyakitkan untuk kedepannya. Sakit itu menyentuh hatinya. Mempropagandakan rongga hatinya hingga semua yang di rasa ingin keluar. Bukan tentang sebuah kecelakaan.. Bukan..

            Seperti biasa ini hanya sebuah seorang pangeran berkuda putih yang telah melepaskan dirinya untuk pergi dari sisinya. Ini tentang perjalanan kertas putih yang sudah terisi dengan tinta kehidupan hingga berpuluh-puluh ribu bahkan sampai ratusan ribu.

            Rio.

            Mario Stevano.

            Ify mendesah berat. Matanya tertutup sesaat. Ia bersyukur kecelakaan yang menimpanya tidak sampai menimbulkan sesuatu yang dapat membuatnya koma. Hanya kaki kirinya yang terbalut gips karena sempat patah.

            Suara decitan pintu membuat Ify membuka matanya. Ia tertegun melihat sosok Rio mulai melangkah masuk. Dalam hati, Ify merasa kangen dengan mata teduh itu. Mata yang membuatnya selalu merasa nyaman. Tapi fantasi itu buyar saat sejak kemarin ia bukanlah siapa-siapa lagi bagi Rio.

            “Masih ada yang sakit?” Rio menggerakkan tangannya menyentuh pelipis Ify. Mengusapnya dengan penuh kelembutan hingga tangannya berhenti di daerah pipi.

            Rio segera menarik kursi yang ada di hadapannya dan segera didudukinya. “Bilang sama aku, mana yang sakit?” Raut wajah Rio menggambarkan kekhawatiran sehingga membuat Ify merasakan hatinya luluh. Hingga ia bisa merasa wajahnya sempat memanas.

            “Aku.. minta maaf..” Rio menatap dalam mata bening Ify. Hatinya meluruh sakit saat melihat Ify melepaskan tangannya dan menaruhnya disisi ranjang.

            “Sivia mana?”

            Akhirnya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Ify. Walau sesungguhnya bukan kalimat itu yang di inginkannya. Bukan itu.. hanya saja Ify merasa hati dan pikirannya tidak sejalan.

            Rio menggenggam lembut tangan kiri Ify. Sesekali ia mengelus punggung tangannya. “Tadi aku sempat ketemu dokter yang nanganin kamu. Katanya kamu bisa keluar dari rumah sakit lusa. Aku bersyukur, tidak ada yang terlalu parah pada kondisi kamu.” Rio mengecup pelan punggung tangan Ify.

            Ify melepaskan tangannya dari genggaman Rio. “Aku capek Yo. Kamu bisa pulang.” Ify menghela nafas pelan. Matanya kembali terpejam yang berarti menandakan ia tidak ingin di ganggu untuk sekarang. Cara halus untuk mengusir Rio dari ruangan yang ditempatinya.

            Rio memaksakan senyumnya. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. “Maaf besok aku nggak bisa kesini lagi. Tapi lusa aku pasti nganterin kamu pulang.” Kembali tangannya mengusap lembut rambut Ify.

            “Tidur yang nyenyak ya. Aku pamit..” Rio segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan yang di inap Ify. Ia kembali menutup pintu kamar Ify. Dan pada saat itu Ify membuka matanya dengan iringan air mata yang turun bebas dari kelopaknya.

            Sivia langsung menghampiri Rio saat melihatnya bersandar di dinding depan ruangan Ify dirawat. “Gimana, Yo?” Sivia segera memberikan satu gelas coffe yang ada di tangannya kepada Rio.

            Rio mengangkat bahunya lepas. “Entahlah.. yang gue tau Ify kecewa banget sama gue..” Rio mengamati gempulan asap yang keluar dari gelas coffe di tangannya.

            “Anak-anak yang lain gimana? Udah pada dikabarin?” Rio kini menatap Sivia yang tersenyum tipis.

            “Beres. Balik yuk. Lo kan juga perlu istirahat biar bisa tenangin diri.”

            Rio mengangguk dan berjalan di belakang Sivia yang sudah melangkahkan kakinya di depan.

            Seperti yang aku bilang waktu itu.. kini saatnya yang tepat untuk aku memberitahukan apa yang terjadi.. Semoga ini yang terbaik untuk kita..

***

            Rio mendorong kursi roda yang Ify gunakan ke arah parkiran. Pada saat ini hatinya berdegup kencang apalagi sedari tadi saat ia menghampiri di ruangannya, Ify lebih banyak berdiam. Ia takut Ify tidak bisa menerimanya lagi.

            “Fy..” Rio tiba-tiba memberhentikan laju langkahnya yang otomatis berhenti mendorongkan kursi roda Ify.

            Ify hanya terdiam. Bibirnya kelu untuk mengucapkan sepatah katapun. Ia merasa bahwa seharusnya tidak seperti ini. Rio tidak udah dating menemuinya lagi agar ia bisa segera melupakan pria itu walau kenangan bersamanya tidak akan pernah ia lupakan.

            Rio mendesah pelan ketika melihat Ify yang masih berdiam diri menutup mulutnya. Ia melangkahkan kakinya sehingga berada di depan Ify. “Maaf..” Rio mengusap lembut pipi Ify.

            “RIO!” Ify menjerit tertahan ketika Rio tiba-tiba mengangkat tubuhnya padahal jarak parkiran masih jauh.

            Rio berjalan sambil menggendong Ify menuju arah mobilnya. Sesekali pandangannya menatap lama wajah Ify yang mengingatkannya dengan kenangan selama sepuluh tahun terakhir ini.

            Sesampainya di mobil, ia mendudukkan Ify di kursi depan daan di ikuti olehnya yang beralih memegang kemudi. Tidak lama kemudian, mobil yang dinaiki mereka melesat menjauh dari rumah sakit.

            Masih sama seperti tadi saat di mobilpun keduanya terdiam. Tidak ada yang membuka percakapan sekalipun baik Rio maupun Ify. Seketika Ify merasa aneh saat laju mobil yang dinaikinya berbalik arah dan tidak melewati arah rumahnya. Sekejap, hatinya merasakan debaran yang membuatnya ketakutan setengah mati.
            “Ki..ta mau kemana, Yo?” Ify meneguk saliva dan pandangannya beralih mentap Rio.

            Rio berbalik memandangi raut wajah Ify. “Nanti kamu juga tau..”

            Ify menghela nafas kasar dan berusaha untuk menetralisirkan debaran jantungnya. Ia harus tenang sehingga pikirannya bisa jernih kembali. Mata Ify mengarah ke kaca mobil sampingnya. Mengamati lalu lalang pejalan kaki yang entah mau kemana. Mobil yang bergerak saling mendahului juga menjadi pengamatannya.

            Tidak lama kemudian mobil yang ditumpangi mereka berhenti di sebuah gedung tua yang tidak layak dihuni. Ia ingat dulunya gedung ini dijadikan lapangan indoor basket. Namun karena tempat strateginya tidak memungkinkan lagi, akhirnya gedung ini ditutup dan tidak di pakai lagi.

            Rio mematikan mesin mobilnya dan segera keluar dari kemudi mobil. Langkahnya berganti kearah tempat Ify. Mengangkat Ify dipelukannya dan segera mengunci otomatis mobil miliknya. Tanpa sadar kedua lengan Ify bergantung di leher Rio.

            Sesampainya di dalam Ify segera mengamati sekitarnya. Ruangan ini benar-benar gelap. Ia tidak bisa melihat siapapun disini. Bahkan ia juga tidak bisa melihat raut wajah Rio. Hatinya kini kembali berdegup kencang dan tangannya semakin mengeratkan kaitannya di leher Rio.

            “Yo..” ucapnya lirih.

            Rio segera mendudukan Ify di atas kursi yang sudah disiapkannya. Rio tersenyum kecil saat Ify tidak mau melepaskan kaitan dilehernya. “Tenang.. ada aku disisi kamu..” Rio mengusap lembut puncak kepala Ify. Dengan tangan yang gemetar, Ify melepaskan kaitan tangannya.

            Beberapa lama mereka terdiam menatap kegelapan gedung ini. Tanpa ada cahaya satupun yang ada di antara mereka. Sesaat Rio menghela nafas dan tersenyum. Lalu ia jentikkan jari kanannya.

            Seketika lampu menerangi Rio dan Ify berada. Satu persatu lilin kecil menyala menampilkan foto-foto mereka yang Rio simpan di meja khusus dalam kamarnya. Sedangkan Ify tertegun menatap itu semua. Foto itu dari awal mereka mengenal satu sama lain. Dari mereka masa kanak-kanak hingga saat ia dan Rio menjalin hubungan.

            Hatinya kembali merasakan sensasi itu yang membuat wajahnya memanas. Ia takut kalau mempercayai apa yang ada di hatinya kini salah. Tapi ia lebih takut lagi kalau apa yang ada di pikirannya kembali melakukan kesalahan yang sama.

            Rio kembali menjentikkan jarinya yang menampilkan cahaya besar yang mengarah di hadapan mereka. Disana menampilkan jajaran-jajaran meja berbaris yang melingkari dirinya dan juga Ify.

            Rio mensejajarkan tubuhnya kearah Ify. Ia mengecup pelan pipi Ify lalu digenggamnya kedua tangan Ify. Ify kembali tersentak dan menatap mata Rio dalam.

            “Yo…”

            Air mata Ify seketika luruh membasahi kedua pipinya. Ia sungguh tidak menyangka apa yang dilakukan Rio terhadapnya saat ini. Perasaan senang, kecewa, kesal membasahi seluruh rongga hatinya dan membuatnya seakan menyesakkan.

            Rio tersenyum manis menatap Ify. Ia mengelus pipi Ify dengan kasih sayang yang begitu terasa di mata Ify. Pandangan mata Rio juga mengarah tajam menusuk mata bening yang ada di hadapannya.

            “Happy birthday for you..” Rio kembali menunjukkan senyumnya.

            Tidak lama kemudian cahaya menerangi arah belakang mereka. Membuat Ify memutar arah tubuhnya. Ucapan happy birthday kembali terdengar kencang karena kini semua teman sekolahnya  termasuk Sivia sendiri turut hadir menyanyikan lagu indah itu diantara mereka semua.

            Ify semakin menangis sesugukan. “Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Ify menggengang erat kemeja yang digunakan Rio.

            “Kamu nggak ingat ini hari apa?” Rio menurunkan tangan Ify di bajunya dan kembali mengelus punggung tangan Ify.

            “Ini Desember. Bulan yang kamu cintai. Dan hari ini tepat tanggal enam adalah hari kelahiran kamu.” Rio mengecup punggung tangan Ify dalam.

            “For mistake once month ago, aku tau aku salah. Tapi aku ingin hari special ini akan menjadi hari kenangan kamu selama kamu hidup bersama aku.” Rio menghela nafas pelan.

            “Dan untuk Sivia, aku nggak mungkin menyukai dia Fy. Karena cuma kamu yang selalu ada di hati aku.” Rio tersenyum saat Ify menatapnya ragu dan masih dengan aliran air yang jatuh dari kedua kelopak matanya.

            Kedua tangan Rio menghapus air mata Ify. “Aku sama Sivia adalah saudara kandung..”

            Ify menatap mereka tidak percaya. Dengan sekali sentakan, Ify menurunkan tangan Rio yang masih membersihkan air matanya. “Bohong!”

            Rio mendesah pelan. Ia tahu Ify nggak akan percaya begitu saja kepadanya. Tiba-tiba Sivia hadir ditengah keharuan mereka.

            “Rio benar Fy. Dia sama gue Cuma sebatas saudara. Dari dua bulan yang lalu saat gue bilang akan pindah ke sekolah Rio, dia udah mohon-mohon ke gue untuk bikin sesuatu yang special untuk ulang tahun lo. Dengan diembel-embel bakal dikenalin Alvin, orang yang gue suka akhirnya gue setuju aja saat itu.” Sivia menatap kearah Ify.

            “Lo ingat? Saat rio mau ketemu nyokap gue itu emang benaran karena sejak gue pindah, nyokap belum pernah sekalipun ketemu Rio akhirnya beliau meminta Rio untuk menemuinya. Dia nggak bohong sama lo saat itu. Terus saat lo ngasihin minuman setelah sejak awal melihat gue dan Rio latihan basket bersama. Disitu kita berdua tau kalo lo sedang merhatiin kita, akhirnya Rio kembali dengan permainnya.”

            Ify kembali terdiam menatap Sivia dan Rio bergantian. Ia menghela nafas pelan.

            Rio kembali berucap saat melihat Ify sedang memikirkan perkataan yang dilontarkan Sivia sedari tadi. “Saat aku mencoba untuk putusin kamu. Aku juga sakit karena sebenarnya itu klimaks dari permainan ini agar saat hari special ini menjadi hari yang paling berarti buat kamu dan aku. Tapi ternyata takdir berkata lain. Itu bukanlah klimaksnya, tapi yang sebenarnya klimaks adalah saat kamu kecelakaan.” Rio menghela nafas dan kembali tersenyum lirih kearah Ify.

            “Saat itu aku juga frustasi.. karena hal itu bukan keinginanku. Aku salah karena ternyata mempermainkanmu sampai sebulan ini agar suasana yang terjadi begitu nyata.” Rio menatap Ify dalam. “Aku minta maaf soal kecelakaan itu karena itu bukan bagian yang aku rencanakan. Aku masih sayang kamu Fy.. Tulus..” lanjutnya lagi.

            Ify tersenyum pelan dan langsung menubrukkan dirinya kearah Rio. Ia tidak menyangka bahwa ini adalah sebuah permainan untuk hari ulang tahunnya. Seharusnya dari awal ia percaya akan hatinya kalau Rio tidak berubah. Rio masih sama seperti Rionya Ify.

            “Jangan pernah lakuin itu lagi..” Ify kembali menangis di pelukan Rio. “Aku takut.. takut kehilangan kamu..” Ify semakin mengeratkan pelukannya.

            “I promise..” ucap Rio matang.

            “Kita baikan kan? Masih pacaran kan?” Rio kembali menatap Ify yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
            Rio menggelengkan kepalanya perlahan-lahan. “Nggak..”

            Ify yang tadinya tersenyum kembali menekuk wajahnya. Ia kembali tidak percaya akan ucapan Rio. “Serius? Yo.. kamu…” Kembali air mata Ify mulai tergenang di kedua kelopak matanya yang membuat pandangannya seketika kabur.

            Rio tersenyum dan mengeluarkan kotak kecil dari kantung jinsnya. Ia membukanya di hadapan Ify. “Aku nggak mau kamu jadi pacar aku lagi.. Karena sekarang..” Rio menunda kalimatnya barusan.

            “Aku mau kamu jadi tunanganku untuk sementara ini sebelum kamu dan aku lulus sekolah dan kita menikah.” Rio tersenyum menatap Ify yang kembali memeluknya.

            Ia menarik Ify dari pelukannya dan mengambil sebelah tangan kanannya untuk memasukkan cincin itu di jari manis Ify. Tepukan tangan dari yang hadir juga memenuhi ruangan yang sudah di desain khusus sehari kemarin oleh Rio dibantu dengan teman-temannya termasuk Sivia.

            Rio kembali menarik Ify dipelukannya dengan erat yang langsung di bales oleh Ify. “Aku berjanji permainan ini akan berakhir bahagia.. karena kamu Ifynya aku. Dan aku masih tetap sama.. Rionya kamu..” Rio mengecup pelipis Ify dengan bahagia.

            Ify menganggukkan kepalanya cepat dan kembali tersenyum.

            “Sekali lagi..happy birthday my wife…

            Ify tersenyum lega. Himpitan sakit yang ada di rongga hatinya kini menghilang diganti dengan kesenangan yang luar biasa akan hal ini di hari ulang tahunnya yang sudah menginjak tujuh belas tahun. Sesuatu yang special karena hadiah permainan yang begitu menyesakkan dada.

            “Thanks Rio! I love you so much…

            “Love you too...”

***
Akhirnya subhanallah haha :^) Yeeep selesai juga chapter 3of3 yang artinya udah tamat. Makasih yang udah nikmatin sedari kemarin untuk baca ff ini ^^ tunggu cerita selanjutnya yaaa! hihi :))
ohiya... Happy New Year juga buat semuanya <3

@Lcoaster17

5 komentar:

Enjoy your comment! :)