29/03/12

Kisah Klasik



Title       : Kisah Klasik
Author      : LersTennouji
Main Cast   : Ify Alyssa, Gabriel Stevent, Rio Haling,  Shilla Zahrantiara


“Hanya sebuah kisah klasik seputar masa lalu yang akan membuatmu terbang melayang menuju sebuah tempat. Tempat dimana hanya ada aku, kamu dan dia..”


***

“Hidup itu rumit, penuh pilihan dan perjuangan.” Gabriel menepuk pundakku lalu tersenyum.

“Pilihan? Kalau boleh memilih gue gak mau dengan pilihan hidup yang hitam ataupun putih. Gue cuma pingin hidup gue itu abu-abu.” Aku tertunduk.

“Loe salah kalau gitu Fy. Loe gak akan pernah ngerasain benar-benar yang namanya hidup. Hitam dan putih itu punya bumbu penyedap masing-masing. Dibalik ada keceriaan pasti akan ada sebuah kekecewaan. Begitu juga sebaliknya. Tapi kalau loe milih abu-abu hidup loe itu akan datar-datar aja Fy. Gak ada bumbu penyedap sama sekali. Itu sama aja loe hidup di dunia ini tapi jiwa loe gak akan pernah ada di dunia yang loe pijak ini.”

Aku tersenyum miris.

“Kalau gitu loe juga salah Yel. Abu-abu itu penengah diantara hitam dan putih. Abu-abu gak akan pernah memihak hitam ataupun putih. Walaupun pada kenyataannya abu-abu itu datar tanpa ada bumbu penyedap dari hitam dan putih, gue bahagia. Seenggaknya gue gak harus nyicipin bumbu-bumbu dari hitam maupun putih.”

Gabrie mendengus kesal.

“Kalau gitu tujuan hidup loe apa? Berarti loe gak ada gunanya hidup didunia ini seandainya loe masih mempertahankan abu-abu.”

“Tujuan hidup? Tujuan hidup gue cuma satu Yel. Hanya Dia seorang. Gue emang gak berguna kali Yel. Buktinya orang tua gue pisah gara-gara gue. Kak Via, satu-satunya saudara yang gue punya akhirnya pergi ninggalin dunia ini karena nyelamatin gue. Maka dari itu gue rela memendam perasaan gue hanya untuk Shilla..”

“Kalau gitu loe egois dan loe munafik. Loe gak harus tau perasaan Dia ke elo. Elo cukup dengan menyatakan perasaan loe ke Dia. Dan untuk Shilla gue sangat amat yakin kalau Shilla pasti bakal ngertiin loe. Loe berdua sama-sama perempuan kali seenggaknya bisa saling mengerti.” Aku terkekeh pelan.

“Lagi-lagi loe salah Yel. Kita memang sama-sama perempuan. Tapi gue sama Shilla beda Yel. Beda sikap, beda pikiran, beda perasaan dan yang loe harus tahu perempuan itu sensitif..”

Pikiranku mulai memasuki ruang waktu. Kembali dimasa bagaimana aku tersakiti secara diam-diam..

Form: Rio Haling
Ke cafe mixtender fy skrg. Ada yg mau gue omongin :D
Gue tunggu ya! Janampe gak dtg lo hehe :p

Aku tersenyum membaca pesan masuk dari kamu. Tanpa sadar wajahku merona. Kalau boleh pilih, aku ingin kamu menyatakan perasaanmu kepadaku nanti saat di Cafe Mixtender.

Aku terkekeh pelan. Rasanya itu adalah sebuah hal yang mustahil pasalnya kedekatanmu kepadaku hanya sebatas sahabat. Tapi bolehkan aku berharap? Aku menginginkan lebih. Lebih dari sahabat, lebih dari teman curhat, lebih dari kakak-adik atau sebagainya. Yang aku inginkan adalah aku dan kamu bersatu. Bersatu menjalin sebuah kasih.

Setelah cukup berdandan sedikit, Aku pun mulai begegas menuju Cafe Mixtender.

*

Aku mendengus kesal. Sudah lebih dari dua jam dari batas waktu yang sudah dijanjikan tapi Rio belum muncul juga. Coffe Milk yang aku pesan sedari tadi mulai berhenti menguap. Dingin. Ya dingin sama seperti hatiku saat ini karena Rio belum menampakkan dirinya.

Aku tersentak saat seseorang menepuk pundakku. Dengan ragu-ragu aku menoleh ke belakang. Rio datang dengan tersenyum kecil lalu mulai berjalan dan menduduki kursi dihadapanku. Aku menghela nafas pelan.

“Gak mau minta maaf karena dateng telat?”

“Hehe.” Rio terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya.

‘Untuk minta maaf aja apa susahnya Yo?’ Aku meringis berusaha menahan rasa kecewaku.

“Oh iya Fy. Ada yang mau gue omongin ke elo tapi Dia belum dateng.” Aku mengeryit heran. Dia? Dia yang kamu maksud siapa Yo? Apa jangan-jangan Dia..

“Nah itu Dia orangnya Fy!” Seru Rio sambil melambaikan tangannya ke arah pintu masuk Cafe Mixtender.

Aku memejamkan mataku. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang terus menggelayuti setengah dari memori ingatanku.

Derap langkah kaki semakin mendekat. Aku terus memejamkan mataku. Menghela nafas pelan dan mulai membuka mata.

“Hai..”

Tubuhku menegang. Suara itu.. suara yang sangat aku kenali.

Aku menahan nafas saat Rio berdiri dan mulai menarik kursi di samping kanannya dan menuntun Shilla untuk duduk di tempat itu.

“Fy, kenalin ini Shilla. Dia yang kumaksud Shilla Fy! Hehe.” Aku tersenyum kikuk.

“Hai Fy!” Shilla tersenyum sambil mengambil Coffe Milk punyaku.

“Minta ya Fy hehe. Haus nih gue.” Aku tersenyum lalu mengangguk.

“Jadi apa yang mau di bicarain?”Aku mulai memasuki inti pembicaraan. Helaan nafas Rio terdengar samar-samar di telingaku.

“Gue mau bilang.. Gue—“

Rio menghela nafas -lagi- sedangkan Shilla menunduk sambil memutar-mutar gelas Coffe Milk punyaku.

“Gue sayang Shilla. Gue mau loe restuin hubungan gue dengan Shilla. Shilla bilang ke gue kalau dia takut elo gak setuju. Dan akhirnya gue ngundang loe kesini untuk mengetahui apakah elo setuju kalau gue menjalin kasih dengan Shilla?”

Aku memejamkan mataku dan mendesah pelan. Aku sadar bahwa kini semua akan berakhir. Bahwa pada kenyataannya itu semua hanya mimpi belaka. Menjalin kasih denganmu hanya sebatas angan-angan yang tertembus awan dan itu semakin membuatku yakin bahwa aku tidak akan bisa menggapaimu.

Aku membuka mataku.

“Gue setuju loe sama Shilla.” Aku tersenyum lalu mulai memegang tangan Rio dan Shilla. Shilla menatapku tidak percaya.

“Loe berdua cocok. Loe jangan takut Shill, gue pasti restuin hubungan kalian. Kalian itu raga dan jiwa gue.” Aku menumpukkan tangan Rio diatas tangan Shilla.

Rio dan Shilla saling pandang dan tersenyum tanpa sadar aku menghela nafas pelan. Loe berdua emang raga dan jiwa gue, tanpa kalian gue akan seperti sampah-sampah kering yang terhempas kemanapun angin bertiup.

Aku melepaskan tanganku dari tangan Rio dan Shilla. Rio memegang pundak Shilla lalu mulai menatap tajam mata bening Shilla.

“Aku emang bukan Cakka mantan kamu dulu. Aku hanya Rio dengan berbagai kekurangan. Dan aku tahu kamu memiliki banyak kelebihan. Aku suka kamu bukan karena kelebihan kamu, tapi aku suka kamu karena pancaran matamu yang membuat aku teduh dan nyaman berada di dekatmu. Tapi jauh di dasar hatiku, aku ‘sayang’ kamu bukan ‘suka’ kamu. Gak harus ada alasan untuk selalu sayang sama kamu tapi akan ada beribu alasan untuk aku suka kamu. Jadi maukah kamu menulis namaku di lubuk hatimu dan memberikan ruang tersendiri untuk aku hidup dihatimu?” Rio mengelus pipi Shilla lembut.

Aku tersenyum. Ini saatnya aku harus benar-benar pergi dari kehidupannya tanpa melepas rasa kasih di hatiku.

“Aku sadar bahwa pada kenyataannya bukan hanya Cakka yang dapat membuatku jatuh cinta. Tapi kamu.. kamu yang membuatku bisa jatuh cinta lagi dan setelah Cakka hanya ada namamu yang terukir indah dihatiku. Yang kamu harus tahu bahwa hatiku sepenuhnya tertutupi dengan namamu tidak ada nama lain. Hanya namamu dan hanya kamu..”

Shilla tersenyum dan lantas memeluk seseorang didepannya kini. Rio membalas pelukannya sambil tersenyum.

Aku menggigit bibir bawahku berusaha menahan rasa perih yang menjalar disetiap hatiku. Sesak dan penuh dengan kekecewaan. Kekecewaan karena aku tidak bisa memilikimu sampai kapanpun. Dan pada akhirnya aku hanya bisa meratapi kekecewaan tersebut yang tanpa sadar ditorehkan karena olahku sendiri.

Aku mulai beranjak dari tempatku membiarkan dua insan di depanku ini menaruh cerita cinta yang akan di ukir mulai dari sekarang dan akan selalu menjadi kenangan terindah bagi kedua insan tersebut.

Aku tersadar saat Gabriel menepuk pundakku.

“Apa loe masih tetep mempertahankan abu-abu?”

“Gue akan selalu pilih abu-abu. Karena mereka jiwa dan raga gue, dan gue gak akan menyakiti hati siapapun hanya karena sebuah perasaan yang menjalar dihati gue saat ini.” Aku tersenyum miris.

Gabriel merengkuh tubuhku di pelukannya.

“Gue gak bisa nolong loe karena ini masalah hati. Gue hanya bisa mendukung apapun keputusan loe nanti. Apapun yang loe pilih abu-abu, hitam maupun putih gue selalu berada dibelakang loe. Karena gue sahabat loe.”

Aku tersenyum saat Gabriel mengungkapkan isi hatinya.

“Makasih buat semuanya Yel..”

Gabriel semakin mengeratkan pelukannya. Membiarkan rasa sesak yang menjalar ditubuhku berpindah atau seenggaknya berbagi kepada Gabriel. Lagi-lagi aku tersenyum.


“Loe sahabat terindah gue Yel. Dan akan selalu terindah dimata gue..”

***

Tamat! Haha :p Nantikan sekuelnya yang gak tau kapan di post~ \m/ 
Yoshill? Fyel? atau Rify kah yang di akhir cerita sekuel nanti? Pengennya sih yang terakhir haha ^^ Yaudah minta komennya ya! Thanks :3

@LersTennouji

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)