31/07/12

End [4]


Lokowari 117.

Ify berkali-kali memandangi papan rumah tempat ia berdiri sekarang. Ify mendesah pelan. Dengan langkah ragu, Ify mulai memasuki halaman rumah Gabriel.
                
Ify berdiri di depan pintu. Dengan tekad yang sudah kuat Ify memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Cukup tiga kali ketuk, pintu itu sudah terbuka.
               
“Non Ify? Silahkan masuk Non!” Pelayan rumah Gabriel yang biasa sipanggil Kho pang sedikit memberi celah untuk mengizinkan Ify masuk kedalam.
                
“Iya ini Ify Kho Pang..” Ify tersenyum “Makasih..” Lanjut Ify sambil membungkukkan badan. Sedetik kemudian Ify mulai melangkah masuk ke dalam rumah Gabriel.
               
Ify mmberhentikan langkahnya. Dengan menepuk keningnya, ify membalikan badannya. “Oh iya Kho, Gabriel ada dimana? Ditempat biasa? Lupa nanya Kho.” Ify terkekeh pelan.

                
“Iya ditempat biasa Non. Gimana sih Non ini haha.” Kho Pang tertawa kecil membuat Ify menunduk malu.
                
“Ya namanya  lupa kho. Ify kesana dulu ya! Dadah Kho Pang yang jelek hehe.” Ify menjulurkan lidahnya sambil berlari kecil.
                
Kho Pang tersenyum. Kehadiran Ify di kehidupan Gabriel merubah suasana yang dulu ada. Walau terkadang suasana yan dulu mencekam masih suka menyisakan sisa di kehidupan Gabriel tapi Kho Pang yakin Ify dapat merubah itu semua. Tinggal tunggu waktu. Sang demi masa yang tidak akan pernah mati.
                
Tunggu.. Dan semua akan terjadi..

***
               
Ify berjalan pelan saat mulai menuruni anak tangga untuk masuk kedalam ruang bawah tanah. Tempat yang biasa Gabriel datangi pada saat waktu luang. Ify mengurutkan kening. Saat tangannya tergapai meraih gagang pintu sebuah suara dari sistem komputer terdengar.
                
“Password?”
               
Ify berdehem pelan, “GSD. Agen S0B-02.”
               
“Wrong! Password?”
               
Ify berdecak kesal. Gabriel merubah password pintu masuk ruang bawak tanah. Dengan segera diambilnya handphone di kantung jinsnya. Menekan angka satu yang lama pada layar handphone dan sesaat mulai tersambung.
               
Apa?” Suara bariton milik Gabriel terdengar jelas ditelinganya.
               
“Buka pintunya! Gue ada di depan ruangan kesayangan lo.” Ify bersandar pada dinding.
                
Lebih baik lo pulang Fy...
                
“Lo masih marah sama gue? buka pintunya dulu, kita bicarain baik-baik. Ayolah Gab.. Jangan kayak anak kecil deh!”
               
Ify mengurutkan keningnya. Rasa pusing mulai meranda dirinya. Tadi saat sebelum kesini, ia lupa untuk minum obat pencegah alerginya kambuh. Harusnya keadaannya tidak apa-apa saat ia kembali teringat semalam saat menunggu Alvin suasana memang lagi sangat dingin ditambah lagi ia harus menunggu berjam-jam tapi Alvin tidak kunjung datang juga.
                
Gabriel masih tidak menjawab perkataannya membuat Ify semakin yakin bahwa Gabriel masih marah padanya.
                
Kalau segini lo aja marah gimana nanti saat lo tau gue berhasil nemuin Agen H-Corp tapi justru gue nggak bilang ke elo...’
               
 Ify terduduk di anak tangga terakhir. Menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut.
               
“Gabriel..” Ify berujar lirih. Masih tidak ada tanggapan dari Gabriel.
               
Ify mendesah pelan, “Yaudah mungkin lo masih marah sama gue. Padahal niat gue kesini mau meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara lo dan gue. tapi ternyata lo menolak untuk itu. Jadi gue anggap ini sebagai penolakan dan kita masih hidup dalam kesalahpahaman..”
                
“Selamat sore Gabriel..”
                
Klik. Sambungan terputus.
               
Ify berdiri dan mulai menaiki anak tangga satu persatu. Mulai menjauh dari ruangan Gabriel. Ini hanya masalah waktu dan lagi-lagi hanya masalah waktu...

***
                
Gabriel menatap kosong layar handphonenya. Sambungan telah terputus beberapa saat yang lalu. Tapi Gabriel masih betah menatap kosong layar handphonenya.
               
Sebenarnya hanya masalah sepele. Ify tidak memenuhi janjinya datang ke taman siswa untuk membantu menyelesaikan masalah tentang schovate yang telah diaktifkan di lingkungan sekolahnya.
              
Tapi ternyata bukan itu saja masalahnya. Beberapa saat ayng lalu sebelum Ify datang, Alvin menghubunginya. Memberitahu bahwa Ify menelponnya, mengajaknya bertemu hingga kejadian saat Alvin tidak datang.
                
Gabriel berdecak kesal. Berkali-kali ia sudah menasehati Ify untuk tidak bertemu Alvin namun hal yang tidak di inginkannya terjadi. Ia mulai berdiri dari duduknya. Berjalan menuju pengaman ruangan. Dimatikannya password yang sedari tadi telah terpasang di pintu itu.
                
Setelah dimatikan, Gabriel berjalan menuju pintu. Menekan tombol hijau yang berada di samping kiri pintu. Dan pada saat itu pintu terbuka lebar. Dilangkahkan kakinya keluar dari pintu menaiki anak tangga dengan berlari kecil.
               
“Kho! Kho Pang!” Suara Gabriel menggema di ruang tengah.
                
Rambutnya menjadi sasaran kesal Gabriel. Diacaknya hingga tidak rapi lagi. “Kho? Kho Pang dimana?” Teriak Gabriel.
               
 Kho Pang datang terburu-buru, “Maaf Den, tadi lagi di luar.” Kho Pang sedikit membungkuk tanda maaf.
               
 Gabriel mengusap wajahnya pelan, “Yaudah nggak apa-apa. Kho Pang liat Ify nggak?”
               
 Kho Pang mengeryit heran, “Loh bukannya Non Ify sama Den Gabriel?”
                
“Lah Kho Pang kok malah balik nanya? Tadi Ify emang sempet ke Gabriel cuma Ify pulang katanya. Nah Gabriel cuma mau mastiin Ify beneran udah pulang apa belum. Kho Pang liat nggak?” Gabriel mulai menghubungi Ify dengan handphone di tangan kirinya.
                
Panggilan masih belum terjawab. Gabriel berdecak kesal menatap handphonenya. Di ulanginya sekali lagi dan semoga panggilan kali ini dijawab oleh Ify.
                
“Yaudah makasih Kho. Kembali ketempat aja Kho.” Gabriel mengangguk pelan disusul Kho Pang. Setelah itu Kho Pang beranjak dari tempatnya.

***
                
Ify bersandar pada rumah pohon. Beruntung sekali Gabriel mempunyai rumah pohon di belakang rumahnya. Handphonenya berdering. Diliriknya handphone yang bergetar dengan layar yang berkedip-kedip.
                
Gabriel Stevent calling..
                
Ify menghela nafas pelan. Dipejamkan matanya dan menghiraukan deringan handphone yang terus berbunyi. Sesaat kemudian handphonenya berhenti berdering tapi itu tidak berlangsung lama karena sedetik kemudian handphonenya kembali berdering. Masih dengan panggilan yang sama dari Gabriel, Ify kini memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.
                
“Lo dimana sekarang?!”
               
 Ify tersenyum pelan, “Emang penting buat lo tau?”
                
“Tinggal jawab aja susah. Kalau bukan ada hal penting yang ingin gue tanyain nggak mungkin gue mau nemuin lo.”
               
 “Oh.” Ify bangun dari duduknya. Menuruni tangga dengan hati-hati karena sedikit licin.
               
 Suasana hening tercipta. Gabriel yang masih berusaha menetralkan perasaannya dan Ify mulai beranjak dari rumah pohon.
                
“Sekali lagi gue tanya, lo dimana? Kenapa sih jawab gitu aja susah?!”
               
Ify berjalan memasuki pintu utama yang menghubungkan antara ruangan tengah dengan halaman belakang rumah Gabriel. Ify sendiri masih belum menjawab pertanyaan Gabriel. Menurutnya itu hanya buang-buang waktu. Lagi pula kini Ify dapat melihat Gabriel memunggunginya dari jauh.
               
“Ify!”
               
Ify berdecak kesal, “Gabriel plis gue lagi nggak mau berdebat sama lo. Ini kita bicarain lagi setelah pikiran kita sudah pada dingin.”
                
“Kenapa? Apa karena lo mau ketemu Alvin?”
                
Langkah Ify terhenti. Jantungnya berdegup kencang ditambah rasa gugup mulai menyelimutinya.
                
“Benerkan dugaan gue? lo mau ketemu Alvin?”
               
“Gue bukan mau ketemu Alvin. Gue mau ketemu lo. Gue ada di belakang lo tepat.” Ify berusaha menahan mati-matian rasa gugupnya. Begitu pula menetralkan perasaannya.
               
Ify dapat melihat Gabriel bernalik arah. Mata Gabriel mengarah pada satu titik. Dirinya. Gabriel berjalan cepat menuju tempatnya sedangkan dirinya tidak bergeser sedikitpun. Dengan sekali gerakan Gabriel memutuskan panggilannya diikuti oleh Ify yang menurunkan handphonenya dari telinga kanannya.
              
“Jawab gue Fy!” Cecar Gabriel saat berada didepan Ify.
              
“Apa yang harus gue jawab? Gue yakin elo sendiri juga udah tahu jawabannya.”
               
Gabriel berdecak kesal, “Kapan sih lo mau ngedengerin perkataan gue? apa karena gue nggak penting buat lo jadinya lo mengabaikan gue? iya Fy karena itu?” Gabriel mengacak rambutnya asal.
               
Ify tertunduk, “Bukan gitu.. Bukan gitu maksud gue..”
                
Gabriel mengepalkan tangannya. Ify dapat melihat itu semua. Dan sesaat keheningan mulai tercipta di keduanya.

***
               
Rio berjalan pelan menuju ruang serba guna di sekolahnya. Ia memasang kamera pengawas berbentuk sangat kecil di sudut ruangan. Tadi ia sudah meminta izin ke sekolah bawa barangnya ada yang ketinggalan tapi itu hanya alibi semata. Tujuannya sekarang adalah memasang kamera pengawas di setiap sudut sekolah kecuali kamar mandi dan ruang ganti. Ini bisa berguna dalam membantu dirinya untuk memantau dari jauh sekaligus dengan mudah melacak keberadaan Ata Cilla.
                
‘Pertama yang harus gue lakuin adalah menemukan Ata. Setelah itu baru melacak Agen U-Corp.’ Rio tersenyum miring.
               
Setelah selesai memasang kamera pengawas di runag serba guna kini Rio mulai memasang kamera pengawas terakhir di kantin sekolah. Langkah kakinya di percepat menuju kantin agar pengawasan sekolah tidak curiga padanya.

***
                
Sivia tengah memanjakan kucing peliharaannya. Disampingnya Prissy -nama akrab Pricilla- sedang berkutat dengan laptop untuk membuka social network yang bisa bikin dirinya berjam-jam hanya di depan laptop.
               
“Oh iya! Gue dapat teman baru namanya Fika Sauflyssa. Besok gue kenalin lo sama dia deh.” Sivia berujar tiba-tiba sambil melirik Prissy.
               
 Prissy hanya mengacungkan ibu jarinya, “Sip sip!”
                
Sivia hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan-lahan/ senyuman manis terukir di wajahnya. Hari esok akan tiba. Membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama tanpa harus melupakannya.

***
                
Keheningan yang mulai tercipta mulai runtuh saat watch phone keduanya menampilkan sebuah direktur U-Corp yang tak lain adalah Ayahnya Ify.
                
Ify menatap Gabriel yang juga tengah menatapnya. Namun buru-buru Gabriel mengalihkan pandangan matanya dari Ify ke watch phonenya.
                
“Untuk Agen S0B-01 dan S0B-02 harap datang ke kantor dan menemui saya. Kalian hanya punya waktu 20 menit untuk sampai disana. yang terlambat seperti biasa akan di kenakan sanksi.”
                
Gabriel mengurutkan keningnya, “Ada apa memang?”
               
 Ify menatap watch phonenya kemudian mengangguk perahan, “Iya ada apa sebenarnya?”
                
“Tidak usah banyak bertanya. Waktu kalian dimulai dari...” Ify dan Gabriel saling memandang kemudian kemnali lagi menatap layar watch phonenya.
                
“Sekarang! Go!”
               
Gabriel langsung beranjak dan mengambil kunci mobilnya. Sedangkan Ify hanya menatap Gabriel yang berlalu di hadapannya. Setelah menguatkan hati, Ify mulai bergegas menuju U-Corp.

***
               
Alvin masih memandang diam foto figura di meja belajarnya. Foto sepuluh tahun lalu saat dirinya diberi kepercayaan untuk menjadi Presdir S0B dari U-Corp. Ia tersenyum miring.
                
Dihempaskan tubuhnya pada kasur bercorak putih abu-abu. Seputar kejadian sepuluh tahun lalu menghampiri pikirannya. Alvin berdecak eksal. Dengan kasar Alvin menarik bantal dan menenggelamkan wajahnya.
                
‘Lo Fy.. Lo yang buat gue kayak gini...’ Alvin semakin menenggelamkan wajahnya pada bantal.
                
‘But.. I always love you...’

***

@Lcoaster17

0 komentar:

Posting Komentar

Enjoy your comment! :)